Agama merupakan suatu fenomena yang tidak bisa terlepas dari permasalah sejarah. Agama yang tumbuh di seluruh dunia dibawa dan disampaikan oleh beberapa penganut hingga turun-temurun. Walaupun, beberapa agama memiliki persamaan dalam tata cara atau tradisi mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Misalnya, ritual, norma, dan keimanan.
Sehingga, terjadi beberapa hal inklusif, pluralis, ada pula yang eksklusif,
konservatif; ada yang missionary dan ada pula yang non missionary.
Penelitian Agama perlu dilakukan untuk mengetahui fenomena Agama dalam
kehidupan dan mengetahui perbedaan antaragama agar dapat menentukan sikap yang
seharusnya diambil oleh penganut Agama masing-masing.
Problem
Outsider dan Insider juga menjadi bahasa akademik tentang agama.
Siapa yang paling kompeten untuk bicara pada orang lain mengenai Islam, sarjana
muslim sendiri (Insider) atau sarjana Barat dan para orientalis (Outsider)? Dalam
tulisan ini penulis ingin menyampaikan klasifikasi dan problem Insider-Outsider studi Agama-Agama (Study of Religons), baik dari kalangan
Islam (Insider) dan di luar Islam (Outsider), yang diungkap dan dijelaskan oleh Kim Knott yang dipaparkan dalam buku Prof. Dr.H. Syafiq A. Mugni.
 |
| salah satu referensi penting dalam mengkaji religion studi |
A. Posisi Insider/Outsider dalam Mengkaji Studi Agama
Kim Knott menyatakan, bahwa sebuah
pengalaman keagamaan yang ada pada diri kaum insider sangat mempengaruhi
pola pikir kaum outsider. Bagaimana tidak, segala sesuatu yang direspon
oleh kaum outsider merupakan hasil cerminan dari pengalaman yang secara
nyata hadir dalam diri kaum insider, yang mana respon tersebut telah
dipertimbangkan melalui batas objektivitas dan subjektivitas, yang terpancar
melalui pengalaman keagamaan kaum insider.
Jauh sebelum pernyataan yang dikeluarkan
oleh Kim Knott, Max Muller (1873) juga mempertegas bahwa, suatu agama yang
merupakan objek penelitian harus mampu menampilkan sesuatu secara proposional,
meskipun ia harus dikritisi. Selain itu Cornelius Teile juga menekankan
bahwasanya para peneliti agama harus lebih cenderung terhadap suatu yang bersifat
objektivitas tanpa menjadi seorang yang skeptis, sehingga tidak terjadi
kesipahakan antara studi dan investigasi ketika meniliti suatu agama.
 |
| Prof. Kim Knott |
Hal yang sama juga dipikirkan oleh Charles
J. Adams, yang menyatakan bahwa studi keagamaan sangat cocok bila dilakukan
dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yang mana metode tersebut mampu
pemahaman keagamaan kepada seseorang dalam yang ingin mengkaji dan berkomitmen
secara netral terhadap melakukan rekonstruksi pengalaman insider.
Walaupun Charles J. Adams juga menyatakan bahwasnaya fenomenologi hanya mampu
menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan manusia,
tanpa memperhatikan dimensi ruang dan
waktu dan perbedaan budaya masyarakat.
B. Perspektif Insider/Outsider dalam Meneliti Studi Agama
Dalam penelitiannya, Kim Knott telah mengkonsepkan
para ilmuwan/peneliti insider atau outsider ke dalam empat
kategoris, di antara lain:
- Partisipan
Murni
Dalam
penelitiannya, Kim Knott menjelaskan maksud dari partisipan murni ialah mereka
yang mengaku sebagai pemeluk agama yang terlibat penuh terhadap aktivitas
keagamaan. Para peneliti tipe ini umumnya menulis dan mengkaji tentang agama
sebagai insider, dengan memanfaatkan pengetahuan dan
pengalamannya. Sebagai penganut agama (insider) sangat jelas bahwasanya
mereka mempunyai data dan lebih paham terhadap penelitian agama yang
ditelitinya. Walaupun, peneliti tipe ini lebih cenderung menggunakan pendekatan
dari dekat. Dan menghasilkan suatu penelitian yang bersifat obyektif dan tidak apologetic.
 |
| hilangnya kesalarasan beragama, membunuh sosialisasi individu. |
2. Partisipan sebagai Peneliti
Pada elemen kedua
ini, Knott memberikan sebuah ilustrasi bagaimana seorang peneliti yang mencoba
membedakan antara proses kompattermentalis dan elaborasi nilai. Selain itu
Knott juga menjelaskan bahwa peneliti model ini adalah peneliti yang obyektif
dan lebih pada kritik, dengan cara seorang partisipan atau pemeluk agama harus
menjadi seorang peneliti untuk mendapatkan keyakinan dan pr5aktik yang cukup
terkait agamanya sendiri. Dari sinilah
muncul beberapa peneliti kritis yang berani mengulas hal-hal yang
bersifat sensitive sebagai dampak dari postmoderen.
Salah satunya
ialah Samuel Heilman, yang berusaha memadukan antara hasil penelitiannya dengan
menggunakan praktik Ortodoks melalui penafsiran teks suci. Di samping itu, dari
posisinya sebagai peneliti, Samuel Heilman
menggunakan metode spasial dengan memasuki wilayah tradisi keagamaan
esoteris.
Sehingga, perlu
digaris bawahi bahwa setiap agama memang sangat memerlukan studi permulaan yang
umumnya tidak dapat diakses oleh outsider. Untuk pemahaman tersebut,
setiap agama akan bergantung pada seorang insider, yang tidak hanya
mampu menjelaskan pengalaman keagamaannya, tapi juga mampu menjembatangi antara
pemikiran dalam (insider) dengan pemikiran luar (outsider).
3. Peneliti
sebagai Partisipan
Pada pembagian
ketiga, Kim Knott memberikan sebuah contoh, seperti apa yang dilakukan oleh
Eileen Barker. Eeileen Barker merupakan seorang peneliti yang melakukan
penelitian mengenai gereja Unifikasi baik secara praktis ataupun etis tanpa
didasar sebagai -0seorang Moonie (non-sekretarian) dan tidak berpura-pura
menjadi seorang penganut di salah satu sekte keagamaan. Menurut Barker, untuk
meneliti suatu Moonie atau suatu sekte tertentu tidak perlu menjadi salah satu
dari mereka, namun bagaimana cara kita agar dapat membaur dan masuk ke dalam
lingkup penganut Moonies.
Dalam studi agama,
Barker berusaha menjadi seorang partisipan yang sangat aktif sebagai langkah mendapatkan
suatu informasi yang begitu valid. Selain itu, sebagai seorang outsider Banker
amat menyadari bahwa dirinya begitu leluasa dalam mendapatkan semua informasi ,
bahkan yang bersifat internal sekalipun, yang semakin memudahkan dia dalam
meneliti studi keagamaan dalam ruang lingkup agama yang ditelitinya.
Sehingga perlu
digaris bawahi, bahwa Banker benar-benar merasakan adanya keleluasaan untuk
mendapatkan interpretasi dari kedua pihak yang bersebrangan tanpa memihak
ataupun membenarkan satu sama lain.
4. Peneliti
Murni
Dalam
pembagiannya, Kim Knott menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan peneliti murni
atau complete observer adalah mereka (outsider) yang berusaha
melakukan penelitian terhadap suatu agama atau sekte keagamaan, yang mana pada
penelitian tersebut lebih menyangkut ranah perspektif etic dan konsep-konsep social science digunakan
untuk menjelaskan prilaku psikologis terhadap suatu kepercayaan religious.
Sehingga, peneliti
tipe ini lebih cenderung bersifat obyektif, netral, dan mampu mengadakan
generalisasi. Dalam konteks ini, para pengkaji mampu menyadari bahwa mereka
tidak dapat memberikan sebuah penilaian dalam ukuran standar apapun. Dalam
pandangan Kim Knott, kelompok observasi ini tidak banyak mengurai isu-isu
terkait suatu kebenaran ataupun suatu kesalahan.
C. Problem Insider/Outsider
Kajian Insider dan
Outsider tidak terlepas dari peran pengalaman peneliti Barat dan Sarjana Muslim
sendiri, dalam menafsirkan dan memahami islam.Insider sendiri merupakan para
pengkaji dalam Islam itu sendiri. Sedangkan Outsider ialah para pengkaji
non-muslim yang meneliti dan berusaha memahami kontkes keislaman.
Sehingga dari
pendefinisian di atas, terjadi sebuah pertanyaan dan permasalahan yang cukup
mendasar, apakah para pengkaji Islam dari sisi outsider benar-benar
mengkaji Islam secara obyektif, dapat dipertanggung jawabkan, serta memiliki
validitas ilmiah dalam perspektif kaum insider?
Di satu sisi,
seorang peneliti ousider juga dituntut untuk mendapatkan suatu pemahaman
yang utuh dan valid mengenai Islam yang mereka teliti, sesuai dengan pemaknaan
yang utuh dan valid dalam penelitian mereka. Tapi, di sisi lain juga outsider
juga harus menyampaikan dan menginformasikan suatu penelitian mereka secara
ilmiah. Namun, yang menjadi suatu pokok permasalahan lainnya, bagaimana seorang
peneliti dapat mengetahui informasi yang memadai tentang Islam. karena jika
kita berpikir bahwasanya kaum outsider lebih jauh memahami beberapa
aspek yang ada di dalam Islam ketimbang memahami apa yang berada dalam
pandangan kaum Muslim, misalnya pengaruh peradaban Islam terhadap peradaban
Eropa.
Dari problematika
di atas, membuat beberapa tokoh melakukan pengecaman terhadap hasil penelitian
yang dilakukan oleh kaum outsider. Salah satunya Gordon E. Pruett yang
berpendapat bahwa banyak kaum outsider yang menjadi orientalis yang
hanya bisa memojokkan nama-nama Islam melalui operasionalisasi metodologi
dunia. Sehingga, dari pernyataan tersebut Gordon beranggapan akan terjadinya
sikap kesalahan pahaman yang dilakukan oleh kaum orientalis dalam melakukan
pengkajian studi agama Islam.
D. Kontribusi perspektif Insider dan Outsider terhadap Ilmu
Pengetahuan
Dalam mengkaji
studi agama, ilmuwan insider dan outsider telah memberikan
kontribusi yang begitu banyak terhadap pola pikir para pengikut agama tertentu.
Bahkan, tak jarang berkat penelitian dan perdebatan yang begitu panjang,
peniliti insider ataupun outsider telah memberikan suatu kontribusi amat
penting terhadap perkembangan pengetahuan kala itu. Sehingga, beranjak dari
pembahasan sebelumnya, penulis telah membagi menjadi tiga bagian atas pengaruh
penilitian keagamaan ilmuwan insider/outsider terhadap bidang pengetahuan,
yakni:
Pertama, proses pendekatan yang
dilakukan oleh kaum outsider dalam mengkaji studi agama menggunakan
pendekatan fenomenologi, yang mana dari kajian tersebut memberikan sebuah
solusi terhadap motodologi bagi studi Islam.
Kedua, pendekatan yang dilakukan oleh insider dan outsider dalam
mengkaji sutdi islam ialah salah satunya melakukan pendekatan fenomenologi,
yang mana dalam pendekatan tersebut berhasil mempengaruhi pola pikir para
ilmuwan yang menjadi perdebatan yang amat luar biasa, khususnya dalam bidang
intelektual. Sehingga, pada saat itu, terjadi pengkajian besar-besaran yang
dilakukan oleh berbagai kalangan baik dari lingkup pemeluk agama ataupun
sebagai non-pemeluk agama.
Ketiga, dalam mengkaji Islam kaum outsider telah mengalami banyak probelm
dalam penelitiannya. Tapi di sisi lain, di balik problematika yang dirasakan
oleh outsider terdapat sebuah sisi positif, yang mana kaum outsider
telah cukup membantu kaum insider dalam mengkaji studi agama. Sehingga,
pihak insider menyadari dan memperkaya khazanah keilmuannya.