5 Mahasiswa UB, Ciptakan Listrik Dari Tanaman Padi

Kreasi Anak Bangsa - Energi listrik menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia, bahkan nyaris tidak bisa dipisahkan. Namun sayang, belum seluruh wilayah Indonesia teraliri listrik. Saat ini tercatat 19 persen dari wilayah Tanah Air belum bisa menikmati listrik.

Cakrawala kematian

Salah satu hal tersulit yang bisa kita lakukan adalah melepas orang yang begitu kita cintai menuju kematian. Cerita berikut ini bisa membantu.

Karena ibu akan selalu bersama kita

Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”

Belajar Mendengar

Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “Kalau mama dan kamu sedang pergi bermain bersama, lalu kita kehausan tapi tidak ada air, dan kebetulan di dalam tas kecil kamu ada 2 buah apel, apa yang kamu akan lakukan?”

Luangkan Waktumu

Aku menghabiskan satu jam di sebuah bank dengan ayahku. Beliau hendak mentransfer sejumlah uang. Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya. “Kenapa tidak aktifkan saja internet banking?".......readmore

Kamis, 09 Maret 2017

Kerinduanku

Mengenang syahidnya cinta pertama Rasulullah saw.

Di malam sunyi dan dingin ini.
Ku sendiri termenung akan kerinduan.
Duduk di bawah sinar rembulan.
Memikirkan sosok tercinta.

Menanti angin malam membawa belasan rindu.
Yang membuatku larut akan kesedihan.
Ku berduka atas Syahidnya Ummul Mukminin.
Sungguh sang pecinta ini, larut akan duka dan kesedihan dirimu.

Sepi hidup sebatang kara.
Diseliputi duka dan nestapa.
Tanpa hadirnya sosok tercinta.
Bagaikan hidup tanpa warna.

Ku selipkan kesedihan ini dibalik sunyi nya malam.
Ku benamkan kerinduan ini dalam dinginnya malam.
Ku simpan kecintaan ini, bersamaan dengan terangnya rembulan.
Berharap engkau tahu bahwa perasaan ini telah ku titipkan di sebuah malam yang indah (Laelatul Qadar).

Rabu, 08 Maret 2017

Wanita Sholehah


Menyambut Kelahiran Fatima Az-Zahra, sebagai manifestasi wanita teladan sepanjang masa.


Ia mutiara terindah dunia.
Bunga terharum sepanjang masa.
Betapa indah pesonanya.
Bahkan bidadari surga pun iri padanya.

Ia laksana rembulan,
Yang menyinari insan bumi.
Jika berkata, bumi seakan terlena karena kelembutannya.
Dan jika tersenyum, bumi bergetar karena keindahannya.

Oh, begitu indah dirinya.
Dari tatapannya,
Hadirkan beribu kesejukan.
Dibalik senyumnya tersimpan anugrah illahi.

Sungguh, dirinya bak manifestasi para penghulu surga.
Sabarnya bagaikan Az-Zahra,
Bijaknya bagaikan Al-Kubra,
Dan cerdasnya bagaikan putri Imran.

Maka tak salah, bila ada yang mengatakan
Dunia adalah perhiasan.
Dan sebaik-baiknya perhiasan dunia,
Adalah wanita Sholehah.

Perang Salib, Sejarah Kelam Kaum Kristen dan Kehancuran Peradaban Islam

Pristiwa Salib yang terjadi selama 150 tahun di Kawasan Jazirah Arab
  • Pengantar

        Adakah diantara umat muslim atau kristiani yang begitu mengingat pristiwa “Perang Salib”? Mungkin, mayoritas muslim tidak begitu mengetahui apa yang terjadi dengan pristiwa tersebut? Suatu kejadian yang begitu pelik, yang mana sejarah sendiri menuliskan bahwa pada hari itu terjadi pertumpahan darah secara bsar-besaran antar umat beragama. Bahkan sejarah mencatat kurang dari 1.000 bala tentara muslim maupun kristiani gugur dalam pristiwa tersebut.
            Adapun dari kalangan sejarawan menyatakan bahwasanya, perang yang berlangsung selama tiga priode atau kurang lebih 150 tahun lamanya, telah memberikan efek samping bagi peradaban Islam di Jazirah Arab. Perang yang dipicuh akibat penindasan kaum Saljuk kepada umat kristiani menjadi salah satu problem terjadinya Perang Salib yang terjadi sepanjang dynasty Abbasiyyah berkuasa.
          Selain itu, direbutnya Baitul Maqdis pada tahun 1079 M oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan ibadah di tempat sucinya. Dikarenakan pada awalnya Yerusalem dibawa kekuasaan Fatimiyah yang berpusat di mesir, tidak adanya aturan yang ketat yang diperlakukan dinasti Fatimiah terhadap peziarah Kristen di Yerusalem. Dan di berikannya kebebasan penuh terhadap kaum Kristen yang ingin melakukan ziarah. Setelah ditaklukannya Yarusalim oleh Dinasti Saljuk dari tangan Dinasti Fatimiyah. Maka terjadilah peralihan kekuasaan. Semenjak beralihnya kekuasaan tersebut Yarusalim yang menjadi pusat ibadah haji kaun Kristin, mereka merasa dihalangi oleh kaum saljuk dan ada juga yang mengatakan bahwa terjadinya pembantayan terhadap kaun Kristen yang melakukan ibadah haji.Mendengar kabar yang sadis itu, kaum Kristen di Eropa tidak terima, kalau tempat sucinya diperebutkan dan para peziarahnya dihalangi serta adanya pembantaian. Dan untuk memperoleh kembali keleluasaannya untuk berziarah ke tanah suci Yerussalem. Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat banyak orang-orang Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan diri dalam perang suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa.
Khutbah Paus Urbanus II

            Dengan melihat beberapa indikator di atas, maka jelaslah bahwasanya hal-hal mengenai Perang Salib menjadi salah satu pembahasa yang cukup akademis dalam mengkaji dan menilik kembali, pristiwa-pristiwa apa saja yang terjadi selama 922 tahun yang lalu. Sehingga pristiwa Salib sendiri menjadi salah satu pembahasa yang cukup menarik dalam mengungkap dan membuka fakta yang sebenarnya terjadi antara kedua umat beragama tersebut.

     A. Tiga Periodenisasi Perang Salib (Sejarah Perang Salib)

1.      Perang Salib Periode I
          Rute perjalanan tentara Salib, dimulai sejak khutbah dan pertemuan Paus Urban di Konstantinopel, kemudian menyeberang ke Asia Kecil, wilayah yang saat itu termasuk daerah kekuasaan Qilij Arslan muda, Saljuk Sultan Quniyah (1092-1170). Disinilah tentara Perang Salib berperang untuk pertama kalinya dengan pasukan muslim.[1]
Perang salib pertama, meskipun dilancarkan dengan sejumlah pemimpin dilapangan, termastuk Raymond dari Toulouse, Bohemond dari Sisilia, dan Godfrey dari Bouillon. Mencapai keberhasilan militer yang bernilai penting pada saat masih berada dalam perjalannan melalui anatoli. Kaum Frank itu menaklukkan ibu kota Saljuk di Iznik pada Juni1097, dan membuat pasukan Saljuk yang berada di bawah pimpinan Sultan Qilij Arslan mengalami kekalahan besar-besaran dalam pertempuran Dorylaeum pada Juli di tahun yang sama. Setibanya di Antiokhia, Suriah Utara, Tentara Salib mengepung kota itu pada Oktober 1097. Sekelompok Tentara Salib yang memisahklan diri di bawah pimpinan Baldwin dari Boulogne menyeberang ke kota Edessa yang dikuasai kaum Kristen Armenia. Kota itu takluk pada 10 Maret 1098. Selanjutnya mereka mendirikan Negara Tentara Salib pertama di Timur Dekat tersebut (biasanya dikenal dengan Wilayah Edessa).

Tentara Salib berhasil memukul mundur kaum muslimin dan merebut Antiokhia, Suriah Utara 

      Antiokhia jatuh ke tangan Tentara Salib pada Juni 1098. Dan pada Januari di tahun berikutnya kerajaan Antiokhia diresmikan di bawah pimpinan penguasa Norman, Bohemond dari Sisilia. Sasaran utama-Yarusalem-direbut pada 15 Juli 1099 dan Godfrey dari Bouillon menjadi penguasa pertama di sana.  direbut pasukan kauam Frank pada 1109. Dengan demikian empat kerajaan Tentara Salib telah didirikan di Timur Dekat, yaitu Yarusalem, Edessa, Antiokhia, dan Tripoli. Meski mendapat kemenangan gemilang pada Perang Salib pertama, Tentara Salib tidak mampu menaklukkkan salah satu dari dua kota utama di kawasan itu, yaitu Aleppo atau Damaskus.[2]

2.      Perang Salib Periode II

Pada priode inilah reaksi perlwanan umat Muslim melawan Tentara Salib dalam upaya merebut kembali Baitul Makdis dari tangan pasukan Tentara Salib. Jatuhnya Syuria dan Palestina ketangan Tentara Salaib menunbuhkan kesadaran umat Islam untuk kembali menghimpun kekuatan. Guna merebut kembali wilayah-wilayah yang telah diambil musuh. Sebaliknya dikalangan Tentara Salib terdapat persaingan yang tidak sehat dan juga adanya konflik dengan kaisar Byzantium yang merasa dikhianati. Dalam upaya merebut kembali Jarusalem atau Baitul Makdis, muncullah seorang tokoh yang bernam Imadudin Zangki dari dinasti Zangkiyah. Dia memerintah,  Alepo, Hammah dan  Edesa  berhasil direbut kembali oleh  Imadudin Zangki  pada tahun 1144 M  ia terbunuh dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir oleh prajuritnya sendiri.[3]
Imaduddin Zangki digantikan sama anaknya yang bernama Nurdin Zangki pada pemerintahan Nurdin inilah terjadinya Perang Salib kedua, pada saat raja paus Eugenius III menyerukan untuk melakukan Perang Salib kedua. Seruan ini disambut positif sama raja Perancis Lous VII dan raja Jerman Condrad II, pada saat itu kaisar Konstantinopel sudah tiak percaya lagi kepada Tentara Salib sehingga keberangkatan mereka tanpa adanya restu dari kaisar Kostantinopel. Pada  tahun 1147 terjadi peperangan di Damaskus. Namun, pasukan Nurdin berhasil memukul mundur pasukan Tentara Salib ini di karenakan jatuhnya Edessa ke tangan kaum Muslim. Seluruh kawasan Syam berhasil di taklukkan pusat kekuasaanpun berpindah ke Damaskus. 

Nurdin Zanki berhasil memukul mundur bala tentara Salib

Semenjak berpindahnya pusat kekuasaan di Damaskus, muncullah sosok pemuda tangguh yang dibawah asuhan Imanudin Zangki  dan Nurdin Zangki. Ia mempunyai jiwa hero ia adalah Salah Al-Din Al-Ayyubi. Di sini Salahudin mulai terlibat dalam perjuangan yang dilakukan Nurdin Zangki, semangat juang Salahudin semakin besar, ketulusan perjuangan Nurdin Zangki itu berpengaruh pada diri Salahudin.
          Salahudin pun mulai terlibat dengan perjuangan sang pemimpin. Ia dipercayai oleh Nurdin Zangki sebagai utusan ke Mesir untuk menyatukan barisan umat Islam agar tidak dapat ditembus oleh Pasukan Salib. Di Mesir ia berhasil mengembalikan kejayaan rakyat mesir. Salahudinpun semakin termotifasi untuk membebaskan Palestina. Jalannya semakin terbuka lebar setelah wapafatnya Nurdin Zangki pada tahun 1174 M. Ia menggantikan kedudukan Nurdin Zangki, di sinilah ia mulai melancarkan aksi-aksinya untuk membebaskan bumi Palestina. Upaya awal yang dilakukan Salahudin adalah menyatukan akidah dan kekuatan umat muslim. Keberhasilannya terbukti dengan terbangunnya dinasti  Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M, dia juda berhasil mengisai  kota-kota kecil yakni Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Ceaserea, Asruf,  Jaffar, dan Bairut, pada tahun 1187 M.
Satu-persatu wilayah islam bergabung dengan pasukan Salahudin, kemudian memberangkatkan pasukannya untuk membebaskan Yarusalem. Di kawasan Hattin pasukan Salahudin berhadapan dengan Pasukan Salib yang bermarga di bukit. Maka dengan kecerdasan militer Salahudin berhasil memaksa Pasukan Salib turun gunung hingga terjadi perang besar di Hattin pada tahun 1187 M. Perang inilah yang dicatatat sejarah mampu mengantarkan Salahudin memasuki Yarusalem. Raja dari Pasukan Salib berhasil ditawan dan Yarusalem berhasil dibebaskan, demikian berakhir pulalah kerajaan latin di  Yarusalem.
          Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Merekapun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Salahudin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Salahudin Al-Ayyubi. Perjanjian ini berisi tentang dua hal: (1) Daerah pedalaman milik kaum muslim dan para peziarah Kristen dijamin keamanannya, (2) daerah pantai menjadi milik orang latin. Tidak lama kemudian setealah perjanjian dengan tentara salib di Yaruysalem Salahudin Al-Ayyubi wafat, tepatnya pada tahun 1193 di usianya yang ke 57 tahun.

3.      Perang salib Periode III
Pada periode ketiga ini Tentara Salib berada pada pimpinan raja Jerman Frederick II. Pada kali ini Pasukan Salib berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum Palestina. Hal ini dilakukan agar Pasukan Salib mendapat bantuan dari orang Kristen Qibthi. Pasukan Salib juga beranggapan bahwa kekuasan Islam beralih dari Suriah ke Mesir. Menurut mereka, penaklukan Mesir akan membuka jalan untuk berlayar ke laut merah dan ikut serta dalam perdagangan Samudera Hindia.  Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menguasai Dimyat. Pada waktu itu raja Mesir yang berasal dari dinasti Ayyubiyah Al-Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Pasukan Salib yang berisi tentang perjanjian bahwa Frederick bersedia melepaskan Dimyat sementara Al-Malik Al-Kamil melepaskan Palestina. Pada tahun 1229 pada sebuah perjanjian yang curang, Yerusalem diserahkan kepada Frederick juga daerah yang berbatasan langsung dengan Akka.  Dengan jaminan Al-Kamil menerima bantuan dari Frederick untuk melawan musuhnya yang kebanyakan berasal dari dinasti Ayyubiyah. Dalam perkembangan berikutnya Palestina direbut kembali pada masa pemerintahan Al-Malik As-Shalih yang menggantikan Al-Kamil pada tahun 1247 M. Ketika masa pemerintahan Al-Maik As-Shalih, pemerintahan selanjutnya di kuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah. Pada masa dinasti Mamalik pimpinan perang dipimpin oleh Baybars dan Qalawun. Pada 1263 Baybars merebut Karak dari dinasty Ayyubiyah dan menghancurkan gereja Nazareth yang disakralkan, pada masa mereka, Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim pada tahun 1291 M[4].

Kemenangan tentara Muslim atas tenrara Kristiani
Demikianlah perang salib yang berkobar di Timur. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari Tentara Salib, namun kerugian yang mereka terima banyak sekali karena peperangan itu terjadi di wilayah Islam. Kerugian ini membuat kekuatan politik Islam menjadi lemah.

B. Dampak dari perang salib

                       Dari kontak budaya yang terjadi antara kaum Muslim dan Kristen, dapat kita baca di atas, bahwa yang mendapatkan keuntungan yang benyak  itu  adalah  orang Kristen dan meyebabkan kerugian bagi pihak Muslim. Di karenakan arena peperangan yang berlangsung di daerah kaum Muslim otomatos dengan sendirinya orang muslimlah yang akan menaggung dampak negatif  dari peperangan tersebut. Dengan demikian kaum muslim tidak merasakan dampak positif atau manfaat dari peperangan yang kurang lebih dua abad ini. Dan sebaliknya bagi kaum Kristen, mereka mendapatkan manfaat yang sangat besar.  
Rusaknya beberapa bangunan, dampak dari tragedi salib.


                    Pasalnya perang ini menjadi jembatan penghubung antra budaya Timur dan budaya Barat. Karena pada saat itu kaum Muslim sudah memiliki peradaban yang sudah maju jika dibandingkan dengan kaum Kristen.[1]  Di antara keuntungan yang didapatkan kaum Kristen dari Perang Salib adalah: (1) Dibidang Militer, (2) Dibidang Arsitektur, dan (3) Perdagangan dan Industri. Philip K Hitti di dalam bukunya yang berjudul “History Of The Arabs” juga menegaskan bahwa proses interaksi yang terjadi antara kaum muslim dan kaum Kristen banyak mempunyai dampak positif bagi kaum Kristen.






Senin, 06 Maret 2017

Religious Studies Perspektif Insider/Outsider




  • Pengantar         
             Agama merupakan suatu fenomena yang tidak bisa terlepas dari permasalah sejarah. Agama yang tumbuh di seluruh dunia dibawa dan disampaikan oleh beberapa penganut hingga turun-temurun. Walaupun, beberapa agama memiliki persamaan dalam tata cara atau tradisi mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Misalnya, ritual, norma, dan keimanan. 
              Sehingga, terjadi beberapa hal inklusif, pluralis, ada pula yang eksklusif, konservatif; ada yang missionary dan ada pula yang non missionary. Penelitian Agama perlu dilakukan untuk mengetahui fenomena Agama dalam kehidupan dan mengetahui perbedaan antaragama agar dapat menentukan sikap yang seharusnya diambil oleh penganut Agama masing-masing.
             Problem Outsider dan Insider juga menjadi bahasa akademik tentang agama. Siapa yang paling kompeten untuk bicara pada orang lain mengenai Islam, sarjana muslim sendiri (Insider) atau sarjana Barat dan para orientalis (Outsider)? Dalam tulisan ini penulis ingin menyampaikan klasifikasi dan problem Insider-Outsider studi Agama-Agama (Study of Religons), baik dari kalangan Islam (Insider) dan di luar Islam (Outsider), yang diungkap dan dijelaskan oleh Kim Knott yang dipaparkan dalam buku Prof. Dr.H. Syafiq A. Mugni.

salah satu referensi penting dalam mengkaji religion studi


A. Posisi Insider/Outsider dalam Mengkaji Studi Agama

            Kim Knott menyatakan, bahwa sebuah pengalaman keagamaan yang ada pada diri kaum insider sangat mempengaruhi pola pikir kaum outsider. Bagaimana tidak, segala sesuatu yang direspon oleh kaum outsider merupakan hasil cerminan dari pengalaman yang secara nyata hadir dalam diri kaum insider, yang mana respon tersebut telah dipertimbangkan melalui batas objektivitas dan subjektivitas, yang terpancar melalui pengalaman keagamaan kaum insider.

            Jauh sebelum pernyataan yang dikeluarkan oleh Kim Knott, Max Muller (1873) juga mempertegas bahwa, suatu agama yang merupakan objek penelitian harus mampu menampilkan sesuatu secara proposional, meskipun ia harus dikritisi. Selain itu Cornelius Teile juga menekankan bahwasanya para peneliti agama harus lebih cenderung terhadap suatu yang bersifat objektivitas tanpa menjadi seorang yang skeptis, sehingga tidak terjadi kesipahakan antara studi dan investigasi ketika meniliti suatu agama.
 
Prof. Kim Knott
            Hal yang sama juga dipikirkan oleh Charles J. Adams, yang menyatakan bahwa studi keagamaan sangat cocok bila dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yang mana metode tersebut mampu pemahaman keagamaan kepada seseorang dalam yang ingin mengkaji dan berkomitmen secara netral terhadap melakukan rekonstruksi pengalaman insider. Walaupun Charles J. Adams juga menyatakan bahwasnaya fenomenologi hanya mampu menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan manusia, tanpa memperhatikan dimensi ruang dan 
waktu dan perbedaan budaya masyarakat.

B. Perspektif Insider/Outsider dalam Meneliti Studi Agama
            Dalam  penelitiannya, Kim Knott telah mengkonsepkan para ilmuwan/peneliti insider atau outsider ke dalam empat kategoris, di antara lain:

  1. Partisipan Murni
            Dalam penelitiannya, Kim Knott menjelaskan maksud dari partisipan murni ialah mereka yang mengaku sebagai pemeluk agama yang terlibat penuh terhadap aktivitas keagamaan. Para peneliti tipe ini umumnya menulis dan mengkaji tentang agama sebagai insider, dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya. Sebagai penganut agama (insider) sangat jelas bahwasanya mereka mempunyai data dan lebih paham terhadap penelitian agama yang ditelitinya. Walaupun, peneliti tipe ini lebih cenderung menggunakan pendekatan dari dekat. Dan menghasilkan suatu penelitian yang bersifat obyektif dan tidak apologetic.

hilangnya kesalarasan beragama, membunuh sosialisasi individu.
    2. Partisipan sebagai Peneliti
            Pada elemen kedua ini, Knott memberikan sebuah ilustrasi bagaimana seorang peneliti yang mencoba membedakan antara proses kompattermentalis dan elaborasi nilai. Selain itu Knott juga menjelaskan bahwa peneliti model ini adalah peneliti yang obyektif dan lebih pada kritik, dengan cara seorang partisipan atau pemeluk agama harus menjadi seorang peneliti untuk mendapatkan keyakinan dan pr5aktik yang cukup terkait agamanya sendiri. Dari sinilah  muncul beberapa peneliti kritis yang berani mengulas hal-hal yang bersifat sensitive sebagai dampak dari postmoderen.
            Salah satunya ialah Samuel Heilman, yang berusaha memadukan antara hasil penelitiannya dengan menggunakan praktik Ortodoks melalui penafsiran teks suci. Di samping itu, dari posisinya sebagai peneliti, Samuel Heilman  menggunakan metode spasial dengan memasuki wilayah tradisi keagamaan esoteris.
            Sehingga, perlu digaris bawahi bahwa setiap agama memang sangat memerlukan studi permulaan yang umumnya tidak dapat diakses oleh outsider. Untuk pemahaman tersebut, setiap agama akan bergantung pada seorang insider, yang tidak hanya mampu menjelaskan pengalaman keagamaannya, tapi juga mampu menjembatangi antara pemikiran dalam (insider) dengan pemikiran luar (outsider).

            3. Peneliti sebagai Partisipan
            Pada pembagian ketiga, Kim Knott memberikan sebuah contoh, seperti apa yang dilakukan oleh Eileen Barker. Eeileen Barker merupakan seorang peneliti yang melakukan penelitian mengenai gereja Unifikasi baik secara praktis ataupun etis tanpa didasar sebagai -0seorang Moonie (non-sekretarian) dan tidak berpura-pura menjadi seorang penganut di salah satu sekte keagamaan. Menurut Barker, untuk meneliti suatu Moonie atau suatu sekte tertentu tidak perlu menjadi salah satu dari mereka, namun bagaimana cara kita agar dapat membaur dan masuk ke dalam lingkup penganut Moonies.
            Dalam studi agama, Barker berusaha menjadi seorang partisipan yang sangat aktif sebagai langkah mendapatkan suatu informasi yang begitu valid. Selain itu, sebagai seorang outsider Banker amat menyadari bahwa dirinya begitu leluasa dalam mendapatkan semua informasi , bahkan yang bersifat internal sekalipun, yang semakin memudahkan dia dalam meneliti studi keagamaan dalam ruang lingkup agama yang ditelitinya.
            Sehingga perlu digaris bawahi, bahwa Banker benar-benar merasakan adanya keleluasaan untuk mendapatkan interpretasi dari kedua pihak yang bersebrangan tanpa memihak ataupun membenarkan satu sama lain.
            4. Peneliti Murni
            Dalam pembagiannya, Kim Knott menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan peneliti murni atau complete observer adalah mereka (outsider) yang berusaha melakukan penelitian terhadap suatu agama atau sekte keagamaan, yang mana pada penelitian tersebut lebih menyangkut ranah perspektif  etic  dan konsep-konsep social science digunakan untuk menjelaskan prilaku psikologis terhadap suatu kepercayaan religious.
            Sehingga, peneliti tipe ini lebih cenderung bersifat obyektif, netral, dan mampu mengadakan generalisasi. Dalam konteks ini, para pengkaji mampu menyadari bahwa mereka tidak dapat memberikan sebuah penilaian dalam ukuran standar apapun. Dalam pandangan Kim Knott, kelompok observasi ini tidak banyak mengurai isu-isu terkait suatu kebenaran ataupun suatu kesalahan.

C. Problem Insider/Outsider

            Kajian Insider dan Outsider tidak terlepas dari peran pengalaman peneliti Barat dan Sarjana Muslim sendiri, dalam menafsirkan dan memahami islam.Insider sendiri merupakan para pengkaji dalam Islam itu sendiri. Sedangkan Outsider ialah para pengkaji non-muslim yang meneliti dan berusaha memahami kontkes keislaman.
            Sehingga dari pendefinisian di atas, terjadi sebuah pertanyaan dan permasalahan yang cukup mendasar, apakah para pengkaji Islam dari sisi outsider benar-benar mengkaji Islam secara obyektif, dapat dipertanggung jawabkan, serta memiliki validitas ilmiah dalam perspektif kaum insider?
            Di satu sisi, seorang peneliti ousider juga dituntut untuk mendapatkan suatu pemahaman yang utuh dan valid mengenai Islam yang mereka teliti, sesuai dengan pemaknaan yang utuh dan valid dalam penelitian mereka. Tapi, di sisi lain juga outsider juga harus menyampaikan dan menginformasikan suatu penelitian mereka secara ilmiah. Namun, yang menjadi suatu pokok permasalahan lainnya, bagaimana seorang peneliti dapat mengetahui informasi yang memadai tentang Islam. karena jika kita berpikir bahwasanya kaum outsider lebih jauh memahami beberapa aspek yang ada di dalam Islam ketimbang memahami apa yang berada dalam pandangan kaum Muslim, misalnya pengaruh peradaban Islam terhadap peradaban Eropa.
            Dari problematika di atas, membuat beberapa tokoh melakukan pengecaman terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh kaum outsider. Salah satunya Gordon E. Pruett yang berpendapat bahwa banyak kaum outsider yang menjadi orientalis yang hanya bisa memojokkan nama-nama Islam melalui operasionalisasi metodologi dunia. Sehingga, dari pernyataan tersebut Gordon beranggapan akan terjadinya sikap kesalahan pahaman yang dilakukan oleh kaum orientalis dalam melakukan pengkajian studi agama Islam.

D. Kontribusi perspektif Insider dan Outsider terhadap Ilmu Pengetahuan

            Dalam mengkaji studi agama, ilmuwan insider dan outsider telah memberikan kontribusi yang begitu banyak terhadap pola pikir para pengikut agama tertentu. Bahkan, tak jarang berkat penelitian dan perdebatan yang begitu panjang, peniliti insider ataupun outsider telah memberikan suatu kontribusi amat penting terhadap perkembangan pengetahuan kala itu. Sehingga, beranjak dari pembahasan sebelumnya, penulis telah membagi menjadi tiga bagian atas pengaruh penilitian keagamaan ilmuwan insider/outsider terhadap bidang pengetahuan, yakni:
             Pertama, proses pendekatan yang dilakukan oleh kaum outsider dalam mengkaji studi agama menggunakan pendekatan fenomenologi, yang mana dari kajian tersebut memberikan sebuah solusi terhadap motodologi bagi studi Islam.
            Kedua, pendekatan yang dilakukan oleh insider dan outsider dalam mengkaji sutdi islam ialah salah satunya melakukan pendekatan fenomenologi, yang mana dalam pendekatan tersebut berhasil mempengaruhi pola pikir para ilmuwan yang menjadi perdebatan yang amat luar biasa, khususnya dalam bidang intelektual. Sehingga, pada saat itu, terjadi pengkajian besar-besaran yang dilakukan oleh berbagai kalangan baik dari lingkup pemeluk agama ataupun sebagai non-pemeluk agama.
            Ketiga, dalam mengkaji Islam kaum outsider telah mengalami banyak probelm dalam penelitiannya. Tapi di sisi lain, di balik problematika yang dirasakan oleh outsider terdapat sebuah sisi positif, yang mana kaum outsider telah cukup membantu kaum insider dalam mengkaji studi agama. Sehingga, pihak insider menyadari dan memperkaya khazanah keilmuannya.







Cinta Pandang Pertama Di Tanah Lulo

Cara terindah menikmati manifestasi Ilahi bersama teman-teman.

Hawa panas dengan sengatan sang surya ikut membakar semangat, tatkala mengunjungi Pulau Bokori. Sebelum memasuki primadona wisata itu, ku melewati serangkaian pemandangan eksotis yang mampu membutakan mataku. Keindahan, manifestasi alam semesta membuatku jatuh seolah berada di negeri 1001 dongeng. Ku menganggap, ini hanyalah rayuan mimpi. Sebab, ku tak pernah melihat adanya keindahan di lintas perut ibu pertiwi. Hadirnya jembatan cinta, membuatku semakin takjub. Ku berjalan di atasnya bagaikan menginjak Rialto Bridge (salah satu destinasi wisata Italia). Oh, betapa indahnya waktu itu, ku simpan kenangan manis itu selama perjalanan menuju Bokori.

        Demuruh ombak pun menyambut kedatanganku di Pulau Bokori, ku lihat dan ku tanyai diriku “apakah ini  esensi manifestasi keindahan yang di maksud oleh sang Khalik?”. Ku terus bertanya, hingga aku tak sadar, seorang teman memegang tanganku dan membawaku mengitari pulau bokori. Aku pun kembali jatuh dalam keindahannya, tatkala ku menginjakkan kaki ku di atas pasir putih.Halus, bersih, dan elegan. Kau semakin menyilaukan mataku. Oh, inikah cinta pada pandang pertama yang sering orang rasakan. Ku telusuri bibir pantai dengan berjalan di atas white carpet. Melesat melintas pasir putih yang mulus, sesekali disapu ombak. Sungguh aku merasakan kedamaian. Seperti tak ada beban dalam hidup.

white carpet ala Bokori

   Tak henti-hentinya aku berdesak kagum atas keindahan panoramanya. Pesona eksotisnya berupa deburan ombak dan pemandangan di sekitar pantai. Angin memberikan kesejukan dan rasa damai. Tak ada orang yang berwajah muram disini, semua tertawa lebar, merasakan kebahagiaan berada ditempat seindah ini. Tak lama berselang, mataku kembali terhipnotis, tatkala melihat air laut berwanra biru kehijauan dengan menampilkan fitur terumbuh karang dengan desainer alam terbaik di Tanah Lulo. Oh, ku benar-benar takjub, sungguh substansi yang tak terbantahkan. Bahkan ku tak bisa mendustakan nikmat seindah ini.

Keindahan Sunset di Pulau Bokori

Tatkala, langit menampakkan kesenjahannya. Ku berlari di hamparan bibir pantai, seraya melihat beberapa kawan berdiri di atas jembatan dengan latar belakangi oleh sang surya hampir menghilangkan dzat esensi dirinya. Menikmati indahnya sore hari, diiringi paduan suara ombak dan nyanyian burung sedikit menyingkirkan kemunafikan ibu kota dalam beberapa waktu.  

Muawiyyah dan Polemik Sejarah Peradaban Dinasty Umayah


Perang menjadi senjata dalam menyebarkan ajaran Islam, pada masa pemerintahan Walid Ibn Malik. 


  • Pengantar
Setelah berakhirnya pemerintahan Khulafa al-rasyidin, dinasti Bani Umayyah pun secara resmi melanjutkan masa khilafah Islam setelah berakhirnya sengketa antara Hasan bin Ali as. Dinasti yang dibentuk oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan ini, dalam pemerintahannya telah berani mengubah sistem suksesi kepimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarki atau sistem kerajaan yang bersifat turun-temurun.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun, selama masa pemerintahannya Muawiyyah telah memindahkan Ibu Kota pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, tempat dimana ia berkuasa sebelumnya. Dalam pemerintahannya, Muawiyyah tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Quraisy sebelumnya.
Selain itu, pada masa pemerintahannya juga Muawiyyah bin Abi Sufyan sukses  menyebarluaskan daerah kekuasaannya hampir keseluruh Jazirah Arab dan Asia, Seperti, Palestina, Syria, Irak, Persia, Pakistan, Uzbekistan dan beberapa wilayah Asia Timur. Walaupun Bani Umayyah telah tersebar luas hampir di seluruh wilayah Jazirah Arab, namun beberapa masalah justru datang dari berbagai wilayah kekuasannya, sehingga menyebabkan tumbuhnya benih-benih perpisahan umat yang membuat runtuhnya kerjaan Dinasty Umayyah.
Tapi, apakah seluruh umat muslim di dunia mengetahu sejarah peradaban islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah? Tentu ini menjadi pertanyaan bersama bagi kita, mengingat banyaknya pendapat para ulama terdahulu dalam menceritakan sejarah pasca peninggalan Rasulullah saw. Karena sungguhnya sejarah merupakan salah satu jembatan penghubung antara umat muslim terdahulu dan umat muslim di era modern.
Sehingga dari pernyataan dan problematika di atas, penulis pun merasa perlu adanya suatu wadah yang bertujuan untuk menjelaskan secara tepat dan terperinci Sejarah Peradaban Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, yang disusun dari berbagai karya tulis ulama terdahulu. Di samping itu, penulis juga berharap agar hadirnya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta mampu meluruskan kembali pemikiran umat muslim dalam ruang lingkup Sejarah Peradaban Islam.Setelah berakhirnya pemerintahan Khulafa al-rasyidin, dinasti Bani Umayyah pun secara resmi melanjutkan masa khilafah Islam setelah berakhirnya sengketa antara Hasan bin Ali as. Dinasti yang dibentuk oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan ini, dalam pemerintahannya telah berani mengubah sistem suksesi kepimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarki atau sistem kerajaan yang bersifat turun-temurun.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun, selama masa pemerintahannya Muawiyyah telah memindahkan Ibu Kota pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, tempat dimana ia berkuasa sebelumnya. Dalam pemerintahannya, Muawiyyah tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Quraisy sebelumnya.
Selain itu, pada masa pemerintahannya juga Muawiyyah bin Abi Sufyan sukses  menyebarluaskan daerah kekuasaannya hampir keseluruh Jazirah Arab dan Asia, Seperti, Palestina, Syria, Irak, Persia, Pakistan, Uzbekistan dan beberapa wilayah Asia Timur. Walaupun Bani Umayyah telah tersebar luas hampir di seluruh wilayah Jazirah Arab, namun beberapa masalah justru datang dari berbagai wilayah kekuasannya, sehingga menyebabkan tumbuhnya benih-benih perpisahan umat yang membuat runtuhnya kerjaan Dinasty Umayyah.
Tapi, apakah seluruh umat muslim di dunia mengetahu sejarah peradaban islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah? Tentu ini menjadi pertanyaan bersama bagi kita, mengingat banyaknya pendapat para ulama terdahulu dalam menceritakan sejarah pasca peninggalan Rasulullah saw. Karena sungguhnya sejarah merupakan salah satu jembatan penghubung antara umat muslim terdahulu dan umat muslim di era modern.
Sehingga dari pernyataan dan problematika di atas, penulis pun merasa perlu adanya suatu wadah yang bertujuan untuk menjelaskan secara tepat dan terperinci Sejarah Peradaban Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, yang disusun dari berbagai karya tulis ulama terdahulu. Di samping itu, penulis juga berharap agar hadirnya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta mampu meluruskan kembali pemikiran umat muslim dalam ruang lingkup Sejarah Peradaban Islam.

A. Sejarah Berdirinya Dinasty Umayyah

Dinansti bani Umayyah merupakan pemerintahan yang berdiri pasca era Khulafah al-Rasyidin, pada tahun 41 H/661M. Nama Dinasti Umayyah merupakan penisbatan kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan yang merupakan pendiri dari Dinasty Umayyah. Muawiyyah merupakan salah satu publik fiqur pada era Rasulullah saw, ia juga terkenal sebagai kerabat terdekat Rasulullah pada waktu itu[1]. Memiliki garis keturunan yang sama dengan Rasulullah saw, membuat Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi salah satu sahabat yang begitu dengan  Rasulullah saw.


Upaya mendirikan Dinasty, yang dilakukan oleh Muawiyyah.
Sebelum menjadi seorang Khalifah, dan pendiri Dinasti Umayyah. Muawiyyah pada awalnya adalah seorang gubernur Damaskus pada era kekuasaan Umar bin Khattab, yang mana pada waktu itu merupakan berita yang mengejutkan dari berbagai kalangan. Menurut Ibnu Asakir, Umar mempercayakan seluruh Damaskus kepada Muawiyyah dengan alasan bahwasanya Muawiyyah bin Abu Sufyan merupakan orang yang memiliki kedudukan serta berpengaruh pada waktu itu[2].
Pada masa kekuasaan Khalifah Usman bin Affan menjabat, Muawiyah masih menjabat sebagai gubernur, dan melakukan penyerbuan ke Siprus hingga ia mampu menaklukan hampir seluruh wilayah Siprus, pada tahun 28 H/647 M. Kemudian pada penyerangan pasukan Romawi melalui lautan, Muawiyyah mampu mengalahkannya, dan menjadi sebuah pertempuran laut terbesar yang pernah dilakukan kaum muslimin, yakni perang Dzat ash-Shawari pada tahun 31 H/651 M.
Sementara pada masa kekhafilahan Ali bin Thalib, terjadi sebuah pemecatan besar-besar terhadap Gubernur pada era kekuasaan Usman bin Affan. Demi, mempertahankan kekuasannya Muawiyyah bin Abu Sufyan berusaha melakukan taktik licik. Pada tahap awal, Muawiyyah melakukan berbagai Fitnah terkait penuntutan darah Usman bin Affan yang terbunuh di kediamannya. Selain meluncurkan Fitnah, Muawiyyah juga melakukan penyerangan terhadap Sayyidina Ali bin Thalib as, yang mana mendapatkan dukungan dari kalangan gubernur bekas pemerintahan Usman bin Affan[3].


Polemik Perang Shiffin
Dalam konspirasinya melawan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib, muawiyyah melakukan rencana busuknya dengan cara diplomat. Dengan cara tersebut, Muawiyyah berhasil memukul mundur sebagian tentara Amirul Mukminin dari jalur pemerintahannya. Sehingga, terjadinya perdamaian di antara dua kubu.
Setelah berhasil melakukan perdamaian kekuasaan dengan Sayyidina Ali bin Thalib, lantas tidak membuat hati Muawiyyah senang. Adanya rasa takut serta khawatir direbutnya kembali kekuasannya, membuat muawiyyah menjalankan suatu taktik yang memiliki basis Rasional, yang mana bertujuan untuk medukung pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dengan taktik Rasional tersebut, Muawiyyah bin Abu Sufyan berhasil menghasut beberapa kaum Khawarij di Kufah, yang menjadi langkah awal terbunuh Imam Ali bin Abi Thalib[4].
Sesudah wafatnya Amirul Mu’minin as, berarti habislah masa kepimpinan Khulafah al-Rasyidin. Kemudian beberapa masyarakat Kufah pun mengangkat Hasan bin Ali as, untuk menggantikan posisi ayahnya. Sehingga, terjadi pembaiatan yang pada saat itu. Mendengar terjadinya pembaiatan serta pengangkatan Imam Hasan as.membuat Muawiyyah geram dan kembali melakukan konspirasi terhadap pemerintahan Imam Hasan as. Muawiyyah yang kala itu didukung oleh oposisi Qois bin Saad, melakukan pemberontakan dan memengugurkan beberapa pembela Al-Hasan as[5].
Melihat banyak pertikaian dan pemberontakan yang terjadi, membuat Al-hasan as. Menyerahkan pemerintahannya kepada Muawiyyah, dengan beberapa persyaratan, yakni:
1.      Muawiyyah bersedia menjalankan kitab Allah swt. Dan sunah Rasulullah saw, dan tata cara Khulafa Rasyidin.
2.      Muawiyyah  tidak boleh mengangkat seorang menjadi Khalifah, dan wajib mengembalikkan masa kekhalifahan kepada Al-Mujtaba as.
3.      Masyarakat Iraq, Hijaz, Syam, dan Yaman harus berada dalam keadaan aman.
4.      Sahabat-sahabat Ali dan Syiah-nya terpelihara dalam keadaan aman.
5.      Muawiyyah tidak boleh menganiaya secara tersembunyi maupun terbuka terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw.
6.      Muawiyyah berhenti melakukan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib as.
Syarat-Syarat tersebut pun segera dipenuhi oleh Muawiyyah dengan cara mengirimkan selembaran kertas yang telah ditandatanginya terlebih dahulu. Kemudian, mengumumkan bahwasanya Al-Hasan as, telah turun dan mengakui secara the Facto kekuasaan Muawiyyah.
Dengan adanya pernyataan secara the facto, menjadi dasar berdirinya Dinasti Umayyah pada saat itu juga. Sehingga, dari sinilah awal muncul ke-dzaliman yang dilakukan oleh Muawiyyah berserta beberapa dari garis keturunannya. Muawiyyah pun dilantik menjadi Khalifah pada tahun 41 H, menggantikan Al-Mujtaba as yang memimpin selama 7 bulan. Pada pemerintahannya Muawiyyah menjalan seluruh perjanjian yang telah disepakati bersama Al-Mujtaba. Namun seiring berjalannya waktu Muawiyyah pun membelot dan mengkhinati seluruh isi perjanjian yang telah disepakatinya bersama Al-Mujtaba as. Imam Hasan pun Syahid pada tahun 670 M, di madinah, Saudi Arabia.
Sejak syahidnya Al-Hasan as. Semakin menguatkan eksistensi kedudukan kekhalifaan Muawiyyah. Sehingga, Muawiyyah pun semakin leluasa menguasai seluruh wilayah kekuasaan Islam, serta menjalankan taktik kotornya demi mewujudkan terbentuknya sistem pemerintahan Monarki pada kekuasaan Dinasti Umayyah.

B. Muawiyyah dan Strategi Mendirikan Dinasty 

1.      Upaya Mendirikan Dinasti  
Keberhasilan muawiyyah mencapai ambisi mendirikan kekuasaan Dinasti Umayyah disebabkan di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan administratur. Dia pandai bergaul dengan berbagai tempramen manusia, sehingga dia dapat mengakumulasikan berbagai kecakapan tokoh-tokoh pendukungnya, bahkan bekas lawan politiknya sekalipun. Misalnya dia merangkul dan menawarkan kerjasama Amr Ibn Ash, seorang diplomat dan politikus ulung, mantan gubernur Mesir yang dicopot oleh khalifah Usman.
Upaya strategis yg ditempuh Muawiyyah utk merebut kekuasaan dan sekaligus mendirikan dinasti umayyah antara lain sebagaimana disampaikan berikut ini:
Pertama,  pembentukan kekuatan militer di syria.
Selama 20 tahun menjabat gubernur Syria, suatu wilayah subur yg kuat ekonominya, muawiyyah berusaha mengkonsolidasikan seluruh kekuatan yg ada untuk memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Langkah strategis yg ditempuh selama menjabat gubernur syria antara lain merekrut tentara bayaran baik dari masyarakat asli Syria, maupun dari Imigran Arab yg mayoritas dari keluarganya sendiri, juga merekrut lawan –lawan politiknya yg cakap. Dia tidak segan-segan menghambur-hamburkan harta kekayaan untuk tujuan merekrut unsur-unsur kekuatan di atas.
Selanjutnya dia juga menjanjikan tokoh-tokoh sahabat jika kelak berhasil merebut kekuasaan sebagai khalifah. Di antara mereka yang bersedia bekerja sama dengan muawiyyah adalah Amr Ibn Ash, penakluk dan sekaligus mantan gubernur mesir, diangkat menjadi orang kepercayaan muawiyyah; Ziyad, tokoh yang tidak dikenal jelas siapa orang tuanya dia dikenal dengan “Ziyad Ibn Abihi” diangkat sebagai saudara sendiri dengan memberinya nasab Ibn Abi Sufyan ;  Mughirah Ibn Syu’bah yang dikemudian hari menyarankan pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota kerajaan.
Kedua, politisasi tragedi pembunuhan Usman.
Pada masa pemerintahan khalifah Ali, muawiyyah berjuang memojokkan sang khalifah dengan melancarkan serangan dilematis yang sukar dicarikan jalan pemecahannya. “bahwa Ali harus segera mengusut dan sekaligus menghukum pihak-pihak yang terlibat dalam pembunuhan khalifah Usman. Jika tuntunan ini tidak terpenuhi,maka dia  dianggap bersengkokol dengan kaum pemberontak dan melindungi pembunuh Usman, sehingga Ali sendiri tergolong pihak yang terhukum, karenanya dia harus dicopot dari jabatannya sebagai khalifah”. Implikasi konflik antara Ali dan Muawiyyah merupakan konflik antara kekuatan front Irak dengan kekuatan front Syria.
Politisasi tragedi pembunuhan khalifah Usman ini sangat efektif menumbuhkan simpati dan fanatisme masyarakat syria dalam mendukung perjuangan muawiyyah. Untuk mengobarkan emosi mereka, muawiyyah mempertontonkan baju Usman yg berlumuran darah dan potongan jemari tangan isteri Usman, Na’ilah, yang terpotong ketika berusaha melindungi suaminya.
Ketiga, tipu muslihat dalam arbitrase.
Ajakan arbitrase yg diusulkan oleh pihak muawiyyah merupakan bagian dari langkah strategis untuk memecah belah kekuatan Ali. Keputusan Ali menerima ajakan perundingan tersebut mengecewakan sebagian pengikutnya karena mereka merasa segera mencapai kemenangan dalam peperangan. Mereka membentuk kelompok khawarij yang anti Ali. Lebih daripada itu, kelebihan Amr Ibn Ash dalam perundingan tersebut dalam kapasitasnya sebagai tokoh diplomat dan politikus, semata-mata berusaha mengecoh diplomasi pihak Ali yg diwakili oleh Abu Musa Al-as’ari.
Sehingga jelaslah bahwa sesungguhnya pihak muawiyyah tidak menawarkan arbitrase sebagai media perundingan damai, melainkan sebagai tipu muslihat belaka. Secara de jure, perundingan tersebut meningkatkan kedudukan muawiyyah setaraf kedudukan Ali sebagai khalifah. Hasil perundingan tersebut menetapkan bahwa kedudukan khalifah Ali harus dilepaskan, dan kemudian akan dipilih khalifah baru. Hasil perundingan seperti ini sudah barang tentu menjadikan bara permusuhan pihak Ali semakin berkobar,dan semakin kuatlah alasan khawarij untuk memisahkan diri dan menentang Ali atas kelalaiannya menerima ajakan arbitrase tersebut. Sementara itu kekuatan muawiyyah semakin bertambah, sehingga pada tahun berikutnya pasukan muawiyyah berhasil mengambil alih kekuasaan atas mesir.
Upaya-upaya strategis tersebut di atas cukup efektif dalam memperkuat dukungan dan posisi muawiyyah, sehingga pada akhirnya dia mampu mengalahkan kekuatan Hasan Ibn Ali sekaligus menobatkan diri sebagai penguasa atas imperium muslim. Dengan ini tercapailah ambisi muawiyyah mendirikan dinasti yang baru.[1]
Keempat, upaya mendapatkan simpatis masyarakat Jazirah Arab.
      Sejak wafatnya Imam Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah pun mengambil langkah cepat demi mengamankan posisi Khalifah yang menjadi impiannya. Demi mewujudkannya, muawiyyah memainkan berbagai peran yang sangat penting. Salah satunya dengan cara mendapatkan simpatisan dari kalangan tokoh terkemuka Jazirah Arab pada waktu. Dalam menjalankan rencana busuknya tersebut, Muawiyyah bin Abu Sufyan mendapatkan berbagai kendala. Banyak masyarakat yang melakukan penolakan terhadap penolakan pembai’atan kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan. Dengan adanya penolakkan tersebut, Muawiyyah pun terpaksa melakukan cara paksa dan kekerasan, demi mewujudkan mengamankan posisi Khalifah pada saat itu.
      Hal yang sama pun dilakukan oleh Muawiyyah di Mekkah, banyaknya masyarkat setempat yang menentang dan menolak pembai’atan kepadanya, membuat Muawiyyah bin Abu Sufyan kembali melakukan taktik dan strategi kasar demi mendapatkan bai’at dari masyakarat Madinah dan Mekkah. Masyakarat Mekkah yang pada waktu itu dipimpin oleh Abdullah bin Zubair melakukan perlawanan terhadap serangan yang diluncurkan oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan. Banyaknya pasukan yang dimiliki oleh Muawiyyah bin Sufyan membuat Abdullah bin Zubair kewalahan dalam memerangi kejahilian Muawiyyah. Sehingga, membuat Mekkah yang pada waktu itu jatuh ditangan Muawiyyah bin Sufyan.


Bluskan menjadi cara mendapatkan simpati dari masyarakat jazirah Arab
      Selain ingin mendapatkan bai’at kepada masyarakat Kufah dan Mekkah, Muawiyyah juga melakukan rencananya di Damaskus, yang merupakan daerah kekuasaannya. Dalam menjalankan rencananya, Muawiyyah memberika sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan, dengan memperkenalkan dirinya di tengah orasi masyarakat Damaskus sebagai “Khalul Mukminin” dan juru Tulis Wahyu”[2]. Sehingga dengan pernyataan tersebut, membuat mayoritas masyarakat Damaskus melakukan sumpah setia kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan.
      Dengan mendapatkan sejumlah bai’at dari mayoritas masyarakat Jazirah Arab, semakin mengkokohkan rasa percaya diri Muawiyyah bin Abu Sufyan dalam mewujudkan cita-cita, serta semakin menguatkan dirinya sebagai calon kuat menjadi Khalifah.
2.      Corak khusus pemerintahan Dinasti Umayyah
Berdirinya Dinasti Umayyah tidak semata-mata peralihan kekuasaan, namun peristiwa tersebut mengandung banyak implikasi, di antaranya adalah perubahan beberapa prinsip dan berkembangnya corak baru yg sangat mempengaruhi imperium dan perkembangan ummat Islam. Selama masa pemerintahan Khulafa al-Rasyidun, khalifah dipilih oleh para pemuka dan tokoh sahabat di madinah, kemudian pemilihan dilanjutkan dengan bai’at oleh seluruh pemuka Jazirah Arab. Hal serupa tidak pernah terjadi pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah.  Semenjak muawiyyah, raja-raja Umayyah yang berkuasa menunjuk penggantinya kelak dan para pemuka agama diperintahkan menyatakan sumpah kesetiaan di hadapan sang raja. Sistem pengangkatan penguasa seperti ini bertentangan dengan prinsip dasar dan ajaran permusyawaratan Islam.
Berbeda dengan masa kekuasaan Dinasti Umayyah, yang mana Muawiyyah berusaha dengan keras untuk mengubah sistem pemerintahan dari sistem demokrasi menjadi sistem monarki atau sistem turun-temurun. Perubahan sistem tersebut tentu mendapat kejaman dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, Muawiyyah telah berani mengubah sebuah tradisi kepimpinan yang telah disepakati oleh umat muslim secara sepihak. Tidak sampai di situ, Muawiyyah bahkan berani melanggar perjanjian dengan Al-Hasan dengan tidak memilih khalifah penggantinya, kecuali mengembalikan mandat kekhalifaan kepadanya. Banyak dari kalangan sahabat bahakan Ahlul bait menentang dengan keras perencanaan Muawiyyah tersebut, yang mana hanya akan menimbulkan kekacau dan ke dzaliman, mengingat sifat dari kalangan Bani Umayyah tidak jauh berbeda dengan kalangan kaum kafir Quraisy.


Tradisi Turun-temurun, Dinasty Umayyah. Pengangkatan Abd, Malik sebaga Khalifah Dinasty Umayyah.
Muawiyyah yang kala itu mendapat dukungan dari kalangan pemerintahannya tetap menjalankan rencananya, dengan kembali memainkan peran liciknya satu persatu oposisi yang menolak perencanaan tersebut diperanginya. Dengan terjadinya peperangan dan pemberontakan tersebut, kembali mengingatkan kita bahwasanya segala sesuatu yang dilakukan oleh Muawiyyah selalu diselasaikan dengan jalur peperangan. Berbeda di masa Rasulullah saw dan Khulafah al-Rasyidin yang sebagian besar diselesaikan melalui jalur musyawara bersama.
Dengan berbagai peperangan dan pemberontakan, akhirnya Muawiyyah bin Abu Sufyan pun berhasil membentuk pemerintahan dengan sistem pemerintahan Monarki, yang menurut kalangan dianggap akan menimbulkan berbagai kekacauan dan keterpurukkan Islam di masa akan mendatang.

C. Kejayaan Dinasty Umayyah Timur


Dinasti Umayyah yang berdiri selama 90 tahun, memiliki beberapa tokoh-tooh penguasa kekhalifaan pada saat itu. Adapun nama-nama khalifah yang memimpin pada saat itu:

Silsilah Dinasty Umayyah

Dari nama-nama khalifah tersebut, ada beberapa khalifah bahkan berhasil menyebarluaskan ajaran Islam hingga ke semanjung Afrika, yang mana menandakan  eksisnya Islam pada masa itu. Berikut ini beberapa Khalifah menonjol pada masa kekuasaan Bani Umayyah yang berhasil mencapai puncak kejayaan pada masa Dinasty Umayyah :


1.      Muawiyyah Bin Abu Sufyan. (41-60 H / 661-779M)
Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah pertama pada Dinasti Umayyah sejak 41 H, yang berkuasa selama 15 tahun. Pada masa kekuasaannya, Muawiyyah berhasil membawa Dinasti Umayyah pada puncak kejayannya, yang mana kala itu Muawiyyah berhasil merebut beberapa daerah kekuasaan kerajaan romawi di Jazirah Arab[1].
Bukan hanya itu, Muawiyyah juga berhasil melakukan penaklukkan suku Bar-bar di semenanjung Afrika yang menandaan masuknya ajaran Islam di sekitar daerah kekuasaan suku Bar-bar. Di samping itu, pembetukkan markas-markas tentara juga menandai kekuasaan Bani Umayyah di kawasan Semenanjung Afrika[2].
Selain itu, Muawiyah juga berhasil menjalankan rencana politiknya dalam membentuk sistem kerajaan Monarki atau turun-temurun yang diwarisi oleh keturunannya[3], yang mana dengan terciptanya sistem monarki, semakin memperkuat eksistensi kekuasaan Bani Umayyah kala itu. Selain itu, Muawiyyah juga mendirikan pos dinas untuk memperlancar Administrasi di pusat pemerintahannya.
Dalam bidang seni, Muawiyyah juga berjasa dalam mempengaruhi dunia seni dalam kehidupan masyarakat tanah Arab kala itu. Berhasil memperkenal corak seni lukis kepada masyarakat, membuat dirinya cukup berjasa dalam mengembangkan seni lukis. Tingginya tingkat masyarakat arab untuk berseni cukup sebanding dengan niat Muawiyyah meningkatkan integritas seni. Sehingga, tidak heran banyaknya corak lukisan yang terdapat di sekitar Mesjid dan di luar mesjid kala itu[4].
pembuatan mata uang islam pertama, dalam menunjang ekonomi islam di jazirah Arab
Di samping sukses pada bidang politik dan seni, Dinasti Umayyah pada kekuasaan Muawiyyah juga mencapai kejayaannya pada bidang ekonomi. Di mana pada saat itu, Muawiyyah mencetak mata uang arab sebagai alat tukar resmi pada masa kekuasaannya.

2.      Marwan Bin Hakam (684-685 M)
Marwan Bin Hakam menjadi khalifah ke-4 pada Dinasti Bani Umayyah, yang memerintah sangat singkat, yakni selama setahun (684-685 M). Namun,walaupun memerintah dengan begitu singkat, Marwan Bin Hakam justru memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap penyebaran kekuasaan Bani Umayyah kala itu.  Beberapa peperangan berhasil ia taklukan, salah satunya berhasil menduduki Hijaz yang merupakan daerah kekuasaan Abdullah bin Az-Zubair[5]. Dengan ditaklukannya Hijaz, menandakan kembalinya puncak kejayaan Dinasti Umayyah pada era kekuasaan Marwan Bin Hakam.
Selain pintar dalam berpolitik dan strategi perang, tercatat bahwasanya Marwan bin Hakam merupakan salah satu orang tokoh terkemuka Quraisy yang pandai dalam meriwayatkan hadish dari kalangan sahabat, seperti Umar bin Khathtab, Usman bin Affan dan Zaed bin Tsabit.

3.      Abdul Malik Bin Marwan. (73-86 H / 692-705 M)
Setelah berakhirnya masa kekuasaan Marwan bin Hakam, digantikan oleh anaknya “Abdul Malik bin Marwan” (685-705). Pada masa kekuasannya Abdul Malik berhasil menguasai Iraq yang kala itu dipimpin oleh Mush’ab bin Zubair, yang merupakan wakil dari Abdullah bin Zubair. Setelah sukses menguasai Iraq, Abdul Malik pun kembali mengirim ekspedisi militernya ke Mekkah, guna mengempung pusat pemerintahan Abdullah bin Zubair. Pengupungan yang dipimpin oleh Al-Hajj bin Yusof ini, berhasil menaklukan Mekkah dan berhasil membawa pulang kepala Abdullah bin Zubair ke Damsyik, yang merupakan pusat kerajaan Bani Umayyah pada era Abdullah bin Marwan[6].
Selain berhasil menduduki hampir seluruh wilayah Jazirah Arab, lantas tidak membuat Abdul Malik bin Marwan puas. Abdul bin Malik kembali melakukan ekspansi secara besar-besaran ke wilayah timur, dengan mengirim sekitar 40.000 pasukan & 7.000 tentara bayaran. Dengan jumlah pasukan yang begitu banyak. Ekspedisi tentara yang dikomandai Al-Hajj tersebut, berhasil menaklukan beberapa wilayah di Asia Tengah hingga ke wilayah China dan Mongolia[7].
Setelah berhasil menduduki beberapa wilayah di kawasan Asing Tengah, Abdul Malik bin Marwan kemudian membangun beberapa markas-markas militer yang menandakan tersebarnya wilayah kekuasaan Dinasty Umayyah di kawasan Asia Tengah.


Wilayah Kekuasaan Abd. Malik 
Dengan dilakukannya ekspansi pada masa kekuasaan Abdul Malik, menandakan tersebarnya ajaran Islam di berbagai wilayah timur, serta tersebarnya peradaban Islam pada abad tersebut. Selain itu, pada masa kekuasaan Abdul Malik ditandai dengan penyempurnaan tulisan Al-Qur’an, dengan membuat beberapa baris dan titik pada huruf-huruf Al-Qur’an[8].

4.      Walid bin Abdul Malik. (86-96 H / 692-705 M)
Setelah wafatnya Abdul Malik bin Marwan pada tahun 86 H. Walid, selaku pewaris tahta pun diangkat menjadi khalifah Dinasty Umayyah pada tahun 705 dan berlangsung selama 10 tahun. Pada masa pemerintahan Al-Walid wilayah Kekuasaan Dinasty Umayyah sedikit melebar di wilayah barat, yaitu pada kawasan Eropa pada tahun 711 M.
Ekspansi Kekuasaan Al-Walid berhasil menyentuh Cordoba, Spanyol
Pada waktu itu, Walid mengirim eskpedisi tentaranya ke daerah pesisir Spanyol, yang mana berhasil menduduki beberapa wilayah di sana, antara lain Cordoba, Madrid, Sevilla, Elvira dan Teldon. Selain berhasil meduduki wilayah di Sekitaran Spanyol, Al-Walid juga berhasil menundukan kawasan semanjung Afrika, diantaranya Maroko dan Al-Jazair[9].  Dengan dikuasainya Semenanjung Afrika dan Eropa, semakin meluasnya wilayah kekuasan Muawiyyah kala itu. Sehingga, tidak heran jika pada masa kekuasaan Al-Walid ditandai dengan puncak kejayaan Bani Umayyah pada kala itu.
Di samping tersebarnya ekspansi Dinasti Umayyah, pada masa Al-Walid juga mengembangkan sistem sosial dan ekonomi pada pemeritahannya. Terbukti bahwasanya, Walid mendirikan beberapa dinas pos yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan masyarakat di pusat pemerintahannya. Selain itu juga, Al-Walid melakukan pembaruan terhadap mata uang Arab pada masa kekuasaannya[10].
Bukan hanya itu, Walid bin Abdul Malik juga berjasa mengembangkan tehnik lukisan yang semula dikembangkan di masa kekuasaan Muawiyyah. Pada kekuasaannya, seni lukisan sangat mendapatkan perhatian khusus ketimbang bidang seni lainnya. Sehingga, mengalami pemodifikasi yang sangat luar biasa yang mampu mempengaruhi peradaban seni masyarakat muslim pada saat itu[11].
Selain mengembangkan seni lukis, Walid bin Abdul Malik juga berusaha mengembangkan beberapa seni lain. Seperti seni arsitektur, yang mana pada saat itu juga cukup memberikan dampak positif terhadap peradaban masyarakat Syam. Melalui seni arsitektur tersebut, beberapa masyarakat Syam tidak hanya terfokus pada seni lukis semata, melain juga mengambil peran penting dala mengembangkan kemampuan mereka dalam berarsitektur. Terbukti pada saat itu, masyarakat Syam mampu membangun “Masjid Damaskus” atas seni arsitektur Abu Ubaidah bin Jarrah yang dibantu oleh beberapa seni Syam[12].

5.      Umar bin Abdul Aziz (99-101 H / 717-719 M)
Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 717 M, yang menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik yang menjabat sebagai khalifah pada waktu itu. Pada masa kekuasaan Umar bin Abdul Aziz berhasil menghidupkan rasa damai dan tentram di tengah masyarakat Madinah pada waktu itu. Di samping itu, penghapusan pajak serta menyamakan kedudukan kedudukan masyarakat Arab dengan orang Malawi semakin memakmurkan kehidupan masyarakat Madinah. Bukan hanya itu, banyaknya kabila kaum kafir dzimmi yang memutuskan masuk Islam juga mempengaruhi eksistensi kekuasaan Umar bin Abdu Aziz di pusat pemerintahan.
Selain itu, pada masa kekuasaannya Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sebagai orang yang alim dan taat beragama, bahkan tidak heran pada pemerintahannya Umar bin Abdul Aziz melakukan renovasi serta memperluas bangun mesjid Nabawi di Madinah dan masjid Al-Haram di Mekkah[13].
Bukan hanya meningkatkan kesejateraan perekonomian masyarakat pada waktu itu, Umar bin Abdul Aziz juga turut meningkatkan basis Ilmu pengetahuan pada masa kekuasaannya. Pada saat itu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan beberapa kalangan teolog untuk mengumpulkan beberapa hadish Nabi saw, serta membukukkan hadis-hadis tersebut. Dengan proses pembukuan tersebut, Umar bin Abdul Aziz berhasil mendaulahkan dirinya sebagai Khalifah pertama pada Dinasti Umayyah yang membukukan hadis-hadis Rasulullah, yang menjadi tolak ukur ilmu pengetahuan pada masa kekuasaannya[14]. Selain itu pada masa kekuasaannya, Umar bin Abdul Aziz berhasil menghasilkan beberapa ilmuwan berintelek tinggi. Diantaranya, Imam Baqir as, Imam Ja’far as (ilmuwan mazhab Ahlul Bait), Imam Abu Hanifah, dan Imam Maliki (Ilmuwan Sunni).


Peninggalan Peradaban Intelektual di masa Khalifah Abdul Aziz 
Di samping itu, pada masa kekuasaannya Umar bin Abdul Aziz juga merubah tradisi Bani Umayyah, yang mana pada kala itu banyaknya para ahli agama yang melecehkan Ahlul Bait Rasulullah saw. Sehingga, Umar bin Abdul Aziz menghapus secara permanen tradisi tersebut di masa kekuasaannya. Dari kebijakan tersebut, mayoritas umat muslim merasa tentaram hidup tanpa adanya perbedaaan pandangan dalam ajaran Islam.
Walaupun tidak begitu banyak bergerak di bidang perluasan wilayah, Umar bin Abdul Aziz tercatat sebagai Khalifah yang sukses mengembalikkan kesejahteraan rakyat di tengah isu yang tengah bergejolak pasca wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik.

6.      Hisyam bin Abdul Malik (106- 120 H / 724-743 M)
Hisyam bin Abdul Malik menjadi Khalifah pada Dinasty Umayyah pada sekitar tahun 724 M yang memerintah selama duapuluh tahun, Hisyam bin Abdul Malik mewarisi kekhalifaan dari saudaranya Yazid II dengan mengalami banyak pokok permasalahan. Masa pemerintahannya, Hisyam bin Abdul Malik berhasil mengembagkan kembali masalah perekonomian yang kembali melandah Dinasti Umayyah pada masa peninggalan Umar bin Abdul Aziz. Banyak permasalahan dalam pemerintahan membuat Hisyam bin Abdul Malik, segera mengubah banyak sistem dalam pemerintahan, demi membangkitkan kembali kesejahteraan masyarakat di atas kekuasaan Dinasti Umayyah.
Terbukti dalam masa pemerintahannya Hisyam bin Abdul Malik berhasil memperbaiki masalah perekonomian, yang semula sempat terjadinya inflasi dan kemunduran perekonomian pada peninggalan Umar bin Abdul Aziz[15]. Selain mengembalikkan masalah perekonomian, Hisyam juga memberikan kontribusi yang sangat tinggi terhadap nilai dan intelektual pada masa kekuasannya, yang mana dibangun beberapa sekolah, serta banyak karya sastra Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa itu[16].
Hisyam bin Abdul Malik sangat menyukai seni, sehingga pada masa kekuasaannya Hisyam bin Abdul Malik lebih memfokuskan pada permasalahan seni dan intelektual. Sehingga, pada masa pemerintahannya, Dinasti Umayyah tidak menyebarluaskan wilayah kekuasaan.
Dengan mengembalikkan kembali perekonomian serta meningkatkan nilai mutu intelektual di Pusat Pemerintahannya, membuat Hisyam bin Abdul Malik menjadi salah satu Khalifah yang sangat berpengaruh dalam menunjang kejayaan Dinasti Umayyah.

D. Runtuhnya Dinasty Umayyah Timur


Runtuhnya Dinasty Umayyah

    Setelah sepeninggalan Hisyam bin Abdul Malik, kekhalifahan Dinasti Umayyah mengalami kelemahan-kelemahan yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran dinasti ini. Ada beberapa faktor yang menjadi sebab runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah, diantaranya[1]:


1.      Sistem pergantian Khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru dalam tradisi Arab , pengaturan pergantian kekhalifahan yang tidak jelas menyebabkan persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2.      Pertentangan antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi atas dua kelompok, yaitu Arab Utara yang disebut Mudariyah yang menempati Irak dan Arab Selatan (Himyariyah) yang berdiam di sekitar wilayah Suriah, yang disebabkan pada masalah kecendurungan Khalifah yang lebih memihak ke salah satu kelompok dan menafikkan kelompok yang lain.
3.      Ketidakpuasan sejumlah pemeluk islam non Arab, mereka adalah pendatang baru dari kalangan bangsa bangsa taklukkan yang mendapatkan sebutan mawali. Status tersebut menggambarkan infeoritas di tengah- tengah ke angkuhan orang Arab yang mendapatkan fasilitas dari penguasa Umayyah. Padahal mereka bersama- sama Muslim Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan beberapa orang diantara mereka mencapai tingkatan yang jauh diatas rata- rata bangsa Arab. Tetapi harapan mereka untuk mendapatkan kedudukan dan hak- hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan mawali itu jumlahnya jauh lebih kecil dibandingan tunjangan yang dibayarkan kepadda orang Arab.
4.      Luasnya Wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah, yang menyebabkan sulitnya mengendalikan dan mengurus administrasi dengan baik. Di tambah lagi sedikitnya jumlah penguasa yang berwibawa untuk dapat menguasai sepenuhnya wilayah kekuasan tersebut.
5.      Adanya pola kehidupan mewah di lingkungan istana yang menyebabkan anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan, ketika berkuasa sebagai Khalifah.
6.      Terjadinya penindasan secara terus menerus terhadap pengikut-pengikut Ali  as, pada umunya dan penindasan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. Sehingga, mereka menjadi oposisi yang sangat kuat. Kekuatan baru ini, dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abdul bin Muthalib dan mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah  yang merasa di kelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Hal ini menjadi penyebab tergulingnya Dinasti Umayyah.
7.      Tingginya tingkat egoisme para pejabat pemerintahan dan terjadinya sejumlah pembelotan militer, yang menyebabkan timbulnya gerakan stabilitas kerajaan. Sehigga, dari problem tersebut terjadi ketidakpuasan dan hilangnya loyalitas di sebagian tentara kerajaan, yang mana menyebabkan sebagian tentara kerajaan berpindah ke pihak musuh.


Daftar Pustaka
1.      Mawardiyanti Indri, Dinasti Bani Umayyah di Damaskus, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2014.
            2.      Ja’fariyan Rasul  , Sejarah Para Pemimpin Islam, Jakarta: Al-Huda, 2010.
          3.      Anwar Masrul Ahmad, Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Dinasti Umayyah, Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Vol.I.No.1, 2015.
            4.      Ali, K Sejarah Islam  (Tarikh Pramodern), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003.
5.      Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
            6.      Hitti. K. Philip, History Of The Arabs, Jakarta: Serambi, 2005.
7.      Sudarsono Nda, Sejarah Dinasti Umayyah, Surabaya, Uin Sunan Ampel, 2015.
8.      Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, Jakarta: Kalam Mulia, 2003.
9.      Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional, 2005.
10.  Mubarok Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
11.  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo, 2008.

12.  Amstrong Karen, Sejarah Singkat Islam, Yogjakarta: Jendela, 2002.