Rabu, 08 Maret 2017

Perang Salib, Sejarah Kelam Kaum Kristen dan Kehancuran Peradaban Islam

Pristiwa Salib yang terjadi selama 150 tahun di Kawasan Jazirah Arab
  • Pengantar

        Adakah diantara umat muslim atau kristiani yang begitu mengingat pristiwa “Perang Salib”? Mungkin, mayoritas muslim tidak begitu mengetahui apa yang terjadi dengan pristiwa tersebut? Suatu kejadian yang begitu pelik, yang mana sejarah sendiri menuliskan bahwa pada hari itu terjadi pertumpahan darah secara bsar-besaran antar umat beragama. Bahkan sejarah mencatat kurang dari 1.000 bala tentara muslim maupun kristiani gugur dalam pristiwa tersebut.
            Adapun dari kalangan sejarawan menyatakan bahwasanya, perang yang berlangsung selama tiga priode atau kurang lebih 150 tahun lamanya, telah memberikan efek samping bagi peradaban Islam di Jazirah Arab. Perang yang dipicuh akibat penindasan kaum Saljuk kepada umat kristiani menjadi salah satu problem terjadinya Perang Salib yang terjadi sepanjang dynasty Abbasiyyah berkuasa.
          Selain itu, direbutnya Baitul Maqdis pada tahun 1079 M oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan ibadah di tempat sucinya. Dikarenakan pada awalnya Yerusalem dibawa kekuasaan Fatimiyah yang berpusat di mesir, tidak adanya aturan yang ketat yang diperlakukan dinasti Fatimiah terhadap peziarah Kristen di Yerusalem. Dan di berikannya kebebasan penuh terhadap kaum Kristen yang ingin melakukan ziarah. Setelah ditaklukannya Yarusalim oleh Dinasti Saljuk dari tangan Dinasti Fatimiyah. Maka terjadilah peralihan kekuasaan. Semenjak beralihnya kekuasaan tersebut Yarusalim yang menjadi pusat ibadah haji kaun Kristin, mereka merasa dihalangi oleh kaum saljuk dan ada juga yang mengatakan bahwa terjadinya pembantayan terhadap kaun Kristen yang melakukan ibadah haji.Mendengar kabar yang sadis itu, kaum Kristen di Eropa tidak terima, kalau tempat sucinya diperebutkan dan para peziarahnya dihalangi serta adanya pembantaian. Dan untuk memperoleh kembali keleluasaannya untuk berziarah ke tanah suci Yerussalem. Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat banyak orang-orang Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan diri dalam perang suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa.
Khutbah Paus Urbanus II

            Dengan melihat beberapa indikator di atas, maka jelaslah bahwasanya hal-hal mengenai Perang Salib menjadi salah satu pembahasa yang cukup akademis dalam mengkaji dan menilik kembali, pristiwa-pristiwa apa saja yang terjadi selama 922 tahun yang lalu. Sehingga pristiwa Salib sendiri menjadi salah satu pembahasa yang cukup menarik dalam mengungkap dan membuka fakta yang sebenarnya terjadi antara kedua umat beragama tersebut.

     A. Tiga Periodenisasi Perang Salib (Sejarah Perang Salib)

1.      Perang Salib Periode I
          Rute perjalanan tentara Salib, dimulai sejak khutbah dan pertemuan Paus Urban di Konstantinopel, kemudian menyeberang ke Asia Kecil, wilayah yang saat itu termasuk daerah kekuasaan Qilij Arslan muda, Saljuk Sultan Quniyah (1092-1170). Disinilah tentara Perang Salib berperang untuk pertama kalinya dengan pasukan muslim.[1]
Perang salib pertama, meskipun dilancarkan dengan sejumlah pemimpin dilapangan, termastuk Raymond dari Toulouse, Bohemond dari Sisilia, dan Godfrey dari Bouillon. Mencapai keberhasilan militer yang bernilai penting pada saat masih berada dalam perjalannan melalui anatoli. Kaum Frank itu menaklukkan ibu kota Saljuk di Iznik pada Juni1097, dan membuat pasukan Saljuk yang berada di bawah pimpinan Sultan Qilij Arslan mengalami kekalahan besar-besaran dalam pertempuran Dorylaeum pada Juli di tahun yang sama. Setibanya di Antiokhia, Suriah Utara, Tentara Salib mengepung kota itu pada Oktober 1097. Sekelompok Tentara Salib yang memisahklan diri di bawah pimpinan Baldwin dari Boulogne menyeberang ke kota Edessa yang dikuasai kaum Kristen Armenia. Kota itu takluk pada 10 Maret 1098. Selanjutnya mereka mendirikan Negara Tentara Salib pertama di Timur Dekat tersebut (biasanya dikenal dengan Wilayah Edessa).

Tentara Salib berhasil memukul mundur kaum muslimin dan merebut Antiokhia, Suriah Utara 

      Antiokhia jatuh ke tangan Tentara Salib pada Juni 1098. Dan pada Januari di tahun berikutnya kerajaan Antiokhia diresmikan di bawah pimpinan penguasa Norman, Bohemond dari Sisilia. Sasaran utama-Yarusalem-direbut pada 15 Juli 1099 dan Godfrey dari Bouillon menjadi penguasa pertama di sana.  direbut pasukan kauam Frank pada 1109. Dengan demikian empat kerajaan Tentara Salib telah didirikan di Timur Dekat, yaitu Yarusalem, Edessa, Antiokhia, dan Tripoli. Meski mendapat kemenangan gemilang pada Perang Salib pertama, Tentara Salib tidak mampu menaklukkkan salah satu dari dua kota utama di kawasan itu, yaitu Aleppo atau Damaskus.[2]

2.      Perang Salib Periode II

Pada priode inilah reaksi perlwanan umat Muslim melawan Tentara Salib dalam upaya merebut kembali Baitul Makdis dari tangan pasukan Tentara Salib. Jatuhnya Syuria dan Palestina ketangan Tentara Salaib menunbuhkan kesadaran umat Islam untuk kembali menghimpun kekuatan. Guna merebut kembali wilayah-wilayah yang telah diambil musuh. Sebaliknya dikalangan Tentara Salib terdapat persaingan yang tidak sehat dan juga adanya konflik dengan kaisar Byzantium yang merasa dikhianati. Dalam upaya merebut kembali Jarusalem atau Baitul Makdis, muncullah seorang tokoh yang bernam Imadudin Zangki dari dinasti Zangkiyah. Dia memerintah,  Alepo, Hammah dan  Edesa  berhasil direbut kembali oleh  Imadudin Zangki  pada tahun 1144 M  ia terbunuh dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir oleh prajuritnya sendiri.[3]
Imaduddin Zangki digantikan sama anaknya yang bernama Nurdin Zangki pada pemerintahan Nurdin inilah terjadinya Perang Salib kedua, pada saat raja paus Eugenius III menyerukan untuk melakukan Perang Salib kedua. Seruan ini disambut positif sama raja Perancis Lous VII dan raja Jerman Condrad II, pada saat itu kaisar Konstantinopel sudah tiak percaya lagi kepada Tentara Salib sehingga keberangkatan mereka tanpa adanya restu dari kaisar Kostantinopel. Pada  tahun 1147 terjadi peperangan di Damaskus. Namun, pasukan Nurdin berhasil memukul mundur pasukan Tentara Salib ini di karenakan jatuhnya Edessa ke tangan kaum Muslim. Seluruh kawasan Syam berhasil di taklukkan pusat kekuasaanpun berpindah ke Damaskus. 

Nurdin Zanki berhasil memukul mundur bala tentara Salib

Semenjak berpindahnya pusat kekuasaan di Damaskus, muncullah sosok pemuda tangguh yang dibawah asuhan Imanudin Zangki  dan Nurdin Zangki. Ia mempunyai jiwa hero ia adalah Salah Al-Din Al-Ayyubi. Di sini Salahudin mulai terlibat dalam perjuangan yang dilakukan Nurdin Zangki, semangat juang Salahudin semakin besar, ketulusan perjuangan Nurdin Zangki itu berpengaruh pada diri Salahudin.
          Salahudin pun mulai terlibat dengan perjuangan sang pemimpin. Ia dipercayai oleh Nurdin Zangki sebagai utusan ke Mesir untuk menyatukan barisan umat Islam agar tidak dapat ditembus oleh Pasukan Salib. Di Mesir ia berhasil mengembalikan kejayaan rakyat mesir. Salahudinpun semakin termotifasi untuk membebaskan Palestina. Jalannya semakin terbuka lebar setelah wapafatnya Nurdin Zangki pada tahun 1174 M. Ia menggantikan kedudukan Nurdin Zangki, di sinilah ia mulai melancarkan aksi-aksinya untuk membebaskan bumi Palestina. Upaya awal yang dilakukan Salahudin adalah menyatukan akidah dan kekuatan umat muslim. Keberhasilannya terbukti dengan terbangunnya dinasti  Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M, dia juda berhasil mengisai  kota-kota kecil yakni Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Ceaserea, Asruf,  Jaffar, dan Bairut, pada tahun 1187 M.
Satu-persatu wilayah islam bergabung dengan pasukan Salahudin, kemudian memberangkatkan pasukannya untuk membebaskan Yarusalem. Di kawasan Hattin pasukan Salahudin berhadapan dengan Pasukan Salib yang bermarga di bukit. Maka dengan kecerdasan militer Salahudin berhasil memaksa Pasukan Salib turun gunung hingga terjadi perang besar di Hattin pada tahun 1187 M. Perang inilah yang dicatatat sejarah mampu mengantarkan Salahudin memasuki Yarusalem. Raja dari Pasukan Salib berhasil ditawan dan Yarusalem berhasil dibebaskan, demikian berakhir pulalah kerajaan latin di  Yarusalem.
          Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Merekapun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Salahudin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Salahudin Al-Ayyubi. Perjanjian ini berisi tentang dua hal: (1) Daerah pedalaman milik kaum muslim dan para peziarah Kristen dijamin keamanannya, (2) daerah pantai menjadi milik orang latin. Tidak lama kemudian setealah perjanjian dengan tentara salib di Yaruysalem Salahudin Al-Ayyubi wafat, tepatnya pada tahun 1193 di usianya yang ke 57 tahun.

3.      Perang salib Periode III
Pada periode ketiga ini Tentara Salib berada pada pimpinan raja Jerman Frederick II. Pada kali ini Pasukan Salib berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum Palestina. Hal ini dilakukan agar Pasukan Salib mendapat bantuan dari orang Kristen Qibthi. Pasukan Salib juga beranggapan bahwa kekuasan Islam beralih dari Suriah ke Mesir. Menurut mereka, penaklukan Mesir akan membuka jalan untuk berlayar ke laut merah dan ikut serta dalam perdagangan Samudera Hindia.  Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menguasai Dimyat. Pada waktu itu raja Mesir yang berasal dari dinasti Ayyubiyah Al-Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Pasukan Salib yang berisi tentang perjanjian bahwa Frederick bersedia melepaskan Dimyat sementara Al-Malik Al-Kamil melepaskan Palestina. Pada tahun 1229 pada sebuah perjanjian yang curang, Yerusalem diserahkan kepada Frederick juga daerah yang berbatasan langsung dengan Akka.  Dengan jaminan Al-Kamil menerima bantuan dari Frederick untuk melawan musuhnya yang kebanyakan berasal dari dinasti Ayyubiyah. Dalam perkembangan berikutnya Palestina direbut kembali pada masa pemerintahan Al-Malik As-Shalih yang menggantikan Al-Kamil pada tahun 1247 M. Ketika masa pemerintahan Al-Maik As-Shalih, pemerintahan selanjutnya di kuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah. Pada masa dinasti Mamalik pimpinan perang dipimpin oleh Baybars dan Qalawun. Pada 1263 Baybars merebut Karak dari dinasty Ayyubiyah dan menghancurkan gereja Nazareth yang disakralkan, pada masa mereka, Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim pada tahun 1291 M[4].

Kemenangan tentara Muslim atas tenrara Kristiani
Demikianlah perang salib yang berkobar di Timur. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari Tentara Salib, namun kerugian yang mereka terima banyak sekali karena peperangan itu terjadi di wilayah Islam. Kerugian ini membuat kekuatan politik Islam menjadi lemah.

B. Dampak dari perang salib

                       Dari kontak budaya yang terjadi antara kaum Muslim dan Kristen, dapat kita baca di atas, bahwa yang mendapatkan keuntungan yang benyak  itu  adalah  orang Kristen dan meyebabkan kerugian bagi pihak Muslim. Di karenakan arena peperangan yang berlangsung di daerah kaum Muslim otomatos dengan sendirinya orang muslimlah yang akan menaggung dampak negatif  dari peperangan tersebut. Dengan demikian kaum muslim tidak merasakan dampak positif atau manfaat dari peperangan yang kurang lebih dua abad ini. Dan sebaliknya bagi kaum Kristen, mereka mendapatkan manfaat yang sangat besar.  
Rusaknya beberapa bangunan, dampak dari tragedi salib.


                    Pasalnya perang ini menjadi jembatan penghubung antra budaya Timur dan budaya Barat. Karena pada saat itu kaum Muslim sudah memiliki peradaban yang sudah maju jika dibandingkan dengan kaum Kristen.[1]  Di antara keuntungan yang didapatkan kaum Kristen dari Perang Salib adalah: (1) Dibidang Militer, (2) Dibidang Arsitektur, dan (3) Perdagangan dan Industri. Philip K Hitti di dalam bukunya yang berjudul “History Of The Arabs” juga menegaskan bahwa proses interaksi yang terjadi antara kaum muslim dan kaum Kristen banyak mempunyai dampak positif bagi kaum Kristen.






0 komentar:

Posting Komentar