- Pengantar
Adakah diantara umat muslim atau
kristiani yang begitu mengingat pristiwa “Perang Salib”? Mungkin, mayoritas
muslim tidak begitu mengetahui apa yang terjadi dengan pristiwa tersebut? Suatu
kejadian yang begitu pelik, yang mana sejarah sendiri menuliskan bahwa pada
hari itu terjadi pertumpahan darah secara bsar-besaran antar umat beragama. Bahkan
sejarah mencatat kurang dari 1.000 bala tentara muslim maupun kristiani gugur
dalam pristiwa tersebut.
Adapun
dari kalangan sejarawan menyatakan bahwasanya, perang yang berlangsung selama
tiga priode atau kurang lebih 150 tahun lamanya, telah memberikan efek samping
bagi peradaban Islam di Jazirah Arab. Perang yang dipicuh akibat penindasan kaum
Saljuk kepada umat kristiani menjadi salah satu problem terjadinya Perang Salib
yang terjadi sepanjang dynasty Abbasiyyah berkuasa.
Selain
itu, direbutnya
Baitul Maqdis pada tahun 1079 M oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah
yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam
menunaikan ibadah di tempat sucinya. Dikarenakan pada awalnya Yerusalem dibawa kekuasaan Fatimiyah yang berpusat di mesir, tidak adanya aturan yang ketat yang
diperlakukan dinasti Fatimiah terhadap peziarah Kristen di Yerusalem. Dan di
berikannya kebebasan penuh terhadap kaum Kristen yang ingin melakukan ziarah.
Setelah ditaklukannya Yarusalim oleh Dinasti Saljuk dari tangan Dinasti
Fatimiyah. Maka terjadilah peralihan kekuasaan. Semenjak beralihnya kekuasaan
tersebut Yarusalim yang menjadi pusat ibadah haji kaun Kristin, mereka merasa
dihalangi oleh kaum saljuk dan ada juga yang mengatakan bahwa terjadinya
pembantayan terhadap kaun Kristen yang melakukan ibadah haji.Mendengar kabar
yang sadis itu, kaum Kristen di Eropa tidak terima, kalau tempat sucinya diperebutkan
dan para peziarahnya dihalangi serta adanya pembantaian. Dan untuk memperoleh
kembali keleluasaannya untuk berziarah ke tanah suci Yerussalem. Paus Urbanus
II berseru kepada umat Kristiani di Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus
II berhasil memikat banyak orang-orang
Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan
diri dalam perang suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa.
![]() |
| Khutbah Paus Urbanus II |
Dengan melihat beberapa indikator di atas, maka jelaslah bahwasanya hal-hal mengenai Perang Salib menjadi salah satu pembahasa yang cukup akademis dalam mengkaji dan menilik kembali, pristiwa-pristiwa apa saja yang terjadi selama 922 tahun yang lalu. Sehingga pristiwa Salib sendiri menjadi salah satu pembahasa yang cukup menarik dalam mengungkap dan membuka fakta yang sebenarnya terjadi antara kedua umat beragama tersebut.
A. Tiga Periodenisasi Perang Salib (Sejarah Perang Salib)
1.
Perang Salib Periode I
Rute
perjalanan tentara Salib, dimulai sejak khutbah dan pertemuan Paus Urban di
Konstantinopel, kemudian menyeberang ke Asia Kecil, wilayah yang saat itu
termasuk daerah kekuasaan Qilij Arslan muda, Saljuk Sultan Quniyah (1092-1170).
Disinilah tentara Perang Salib berperang untuk pertama kalinya dengan pasukan
muslim.[1]
Perang salib pertama, meskipun dilancarkan dengan sejumlah pemimpin
dilapangan, termastuk Raymond dari Toulouse, Bohemond dari Sisilia, dan Godfrey
dari Bouillon. Mencapai keberhasilan militer yang bernilai penting pada saat
masih berada dalam perjalannan melalui anatoli. Kaum Frank itu menaklukkan ibu
kota Saljuk di Iznik pada Juni1097, dan membuat pasukan Saljuk yang berada di
bawah pimpinan Sultan Qilij Arslan mengalami kekalahan besar-besaran dalam
pertempuran Dorylaeum pada Juli di tahun yang sama. Setibanya di Antiokhia,
Suriah Utara, Tentara Salib mengepung kota itu pada Oktober 1097. Sekelompok
Tentara Salib yang memisahklan diri di bawah pimpinan Baldwin dari Boulogne
menyeberang ke kota Edessa yang dikuasai kaum Kristen Armenia. Kota itu takluk pada
10 Maret 1098. Selanjutnya mereka mendirikan Negara Tentara Salib pertama di
Timur Dekat tersebut (biasanya dikenal dengan Wilayah Edessa).
![]() |
| Tentara Salib berhasil memukul mundur kaum muslimin dan merebut Antiokhia, Suriah Utara |
Antiokhia jatuh ke tangan Tentara Salib pada Juni 1098. Dan pada Januari di tahun berikutnya kerajaan Antiokhia diresmikan di bawah pimpinan penguasa Norman, Bohemond dari Sisilia. Sasaran utama-Yarusalem-direbut pada 15 Juli 1099 dan Godfrey dari Bouillon menjadi penguasa pertama di sana. direbut pasukan kauam Frank pada 1109. Dengan demikian empat kerajaan Tentara Salib telah didirikan di Timur Dekat, yaitu Yarusalem, Edessa, Antiokhia, dan Tripoli. Meski mendapat kemenangan gemilang pada Perang Salib pertama, Tentara Salib tidak mampu menaklukkkan salah satu dari dua kota utama di kawasan itu, yaitu Aleppo atau Damaskus.[2]
2.
Perang Salib Periode II
Pada priode inilah reaksi perlwanan umat Muslim melawan Tentara Salib
dalam upaya merebut kembali Baitul Makdis dari tangan pasukan Tentara Salib.
Jatuhnya Syuria dan Palestina ketangan Tentara Salaib menunbuhkan kesadaran
umat Islam untuk kembali menghimpun kekuatan. Guna merebut kembali wilayah-wilayah
yang telah diambil musuh. Sebaliknya dikalangan Tentara Salib terdapat
persaingan yang tidak sehat dan juga adanya konflik dengan kaisar Byzantium
yang merasa dikhianati. Dalam upaya merebut kembali Jarusalem atau Baitul Makdis,
muncullah seorang tokoh yang bernam Imadudin Zangki dari dinasti Zangkiyah. Dia
memerintah, Alepo, Hammah dan Edesa
berhasil direbut kembali oleh
Imadudin Zangki pada tahun 1144
M ia terbunuh dalam perjalanan
penaklukan Kalat Jabir oleh prajuritnya sendiri.[3]
Imaduddin Zangki digantikan sama anaknya yang bernama Nurdin Zangki
pada pemerintahan Nurdin inilah terjadinya Perang Salib kedua, pada saat raja
paus Eugenius III menyerukan untuk melakukan Perang Salib kedua. Seruan ini
disambut positif sama raja Perancis Lous VII dan raja Jerman Condrad II, pada
saat itu kaisar Konstantinopel sudah tiak percaya lagi kepada Tentara Salib
sehingga keberangkatan mereka tanpa adanya restu dari kaisar Kostantinopel.
Pada tahun 1147 terjadi peperangan di Damaskus. Namun, pasukan Nurdin berhasil memukul mundur pasukan Tentara Salib ini di
karenakan jatuhnya Edessa ke tangan kaum Muslim. Seluruh kawasan Syam berhasil
di taklukkan pusat kekuasaanpun berpindah ke Damaskus.
![]() |
| Nurdin Zanki berhasil memukul mundur bala tentara Salib |
Semenjak berpindahnya pusat
kekuasaan di Damaskus, muncullah sosok pemuda tangguh yang dibawah asuhan
Imanudin Zangki dan Nurdin Zangki. Ia
mempunyai jiwa hero ia adalah Salah Al-Din Al-Ayyubi. Di sini Salahudin mulai
terlibat dalam perjuangan yang dilakukan Nurdin Zangki, semangat juang
Salahudin semakin besar, ketulusan perjuangan Nurdin Zangki itu berpengaruh
pada diri Salahudin.
Salahudin pun mulai terlibat dengan perjuangan sang pemimpin.
Ia dipercayai oleh Nurdin Zangki sebagai utusan ke Mesir untuk menyatukan
barisan umat Islam agar tidak dapat ditembus oleh Pasukan Salib. Di Mesir ia
berhasil mengembalikan kejayaan rakyat mesir. Salahudinpun semakin termotifasi
untuk membebaskan Palestina. Jalannya semakin terbuka lebar setelah wapafatnya
Nurdin Zangki pada tahun 1174 M. Ia menggantikan kedudukan Nurdin Zangki, di
sinilah ia mulai melancarkan aksi-aksinya untuk membebaskan bumi Palestina.
Upaya awal yang dilakukan Salahudin adalah menyatukan akidah dan kekuatan umat
muslim. Keberhasilannya terbukti dengan terbangunnya dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M, dia
juda berhasil mengisai kota-kota kecil
yakni Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Ceaserea, Asruf, Jaffar, dan Bairut, pada tahun 1187 M.
Satu-persatu
wilayah islam bergabung dengan pasukan Salahudin, kemudian memberangkatkan
pasukannya untuk membebaskan Yarusalem. Di kawasan Hattin pasukan Salahudin
berhadapan dengan Pasukan Salib yang bermarga di bukit. Maka dengan kecerdasan
militer Salahudin berhasil memaksa Pasukan Salib turun gunung hingga terjadi perang
besar di Hattin pada tahun 1187 M. Perang inilah yang dicatatat sejarah mampu
mengantarkan Salahudin memasuki Yarusalem. Raja dari Pasukan Salib berhasil
ditawan dan Yarusalem berhasil dibebaskan, demikian berakhir pulalah kerajaan latin
di Yarusalem.
Jatuhnya Yerussalem
ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Merekapun menyusun
rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa,
raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja
Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M . Meskipun mendapat tantangan
berat dari Salahudin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang
kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil
memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M , dibuat perjanjian
antara tentara salib dengan Salahudin Al-Ayyubi. Perjanjian ini berisi tentang
dua hal: (1) Daerah pedalaman milik kaum muslim dan para peziarah Kristen
dijamin keamanannya, (2) daerah pantai menjadi milik orang latin. Tidak lama
kemudian setealah perjanjian dengan tentara salib di Yaruysalem Salahudin
Al-Ayyubi wafat, tepatnya pada tahun 1193 di usianya yang ke 57 tahun.
3.
Perang salib Periode III
Pada periode ketiga ini Tentara Salib berada pada pimpinan raja Jerman
Frederick II. Pada kali ini Pasukan Salib berusaha merebut Mesir terlebih
dahulu sebelum Palestina. Hal ini dilakukan agar Pasukan Salib mendapat bantuan
dari orang Kristen Qibthi. Pasukan Salib juga beranggapan bahwa kekuasan Islam
beralih dari Suriah ke Mesir. Menurut mereka, penaklukan Mesir akan membuka
jalan untuk berlayar ke laut merah dan ikut serta dalam perdagangan Samudera Hindia. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menguasai
Dimyat. Pada waktu itu raja Mesir yang berasal dari dinasti Ayyubiyah Al-Malik
Al-Kamil membuat perjanjian dengan Pasukan Salib yang berisi tentang perjanjian
bahwa Frederick bersedia melepaskan Dimyat sementara Al-Malik Al-Kamil
melepaskan Palestina. Pada tahun 1229 pada sebuah perjanjian yang curang, Yerusalem
diserahkan kepada Frederick juga daerah yang berbatasan langsung dengan
Akka. Dengan jaminan Al-Kamil menerima
bantuan dari Frederick untuk melawan musuhnya yang kebanyakan berasal dari dinasti
Ayyubiyah. Dalam perkembangan berikutnya Palestina direbut kembali pada masa
pemerintahan Al-Malik As-Shalih yang menggantikan Al-Kamil pada tahun 1247 M.
Ketika masa pemerintahan Al-Maik As-Shalih, pemerintahan selanjutnya di kuasai
oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah. Pada masa
dinasti Mamalik pimpinan perang dipimpin oleh Baybars dan Qalawun. Pada 1263
Baybars merebut Karak dari dinasty Ayyubiyah dan menghancurkan gereja Nazareth
yang disakralkan, pada masa mereka, Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim
pada tahun 1291 M[4].
![]() |
| Kemenangan tentara Muslim atas tenrara Kristiani |
Demikianlah
perang salib yang berkobar di Timur. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan
daerah-daerahnya dari Tentara Salib, namun kerugian yang mereka terima banyak
sekali karena peperangan itu terjadi di wilayah Islam. Kerugian ini membuat
kekuatan politik Islam menjadi lemah.
B. Dampak dari perang salib
Dari
kontak budaya yang terjadi antara kaum Muslim dan Kristen, dapat kita baca di
atas, bahwa yang mendapatkan keuntungan yang benyak itu
adalah orang Kristen dan meyebabkan
kerugian bagi pihak Muslim. Di karenakan arena peperangan yang berlangsung di daerah
kaum Muslim otomatos dengan sendirinya orang muslimlah yang akan menaggung
dampak negatif dari peperangan tersebut.
Dengan demikian kaum muslim tidak merasakan dampak positif atau manfaat dari
peperangan yang kurang lebih dua abad ini. Dan sebaliknya bagi kaum Kristen, mereka
mendapatkan manfaat yang sangat besar.
![]() |
| Rusaknya beberapa bangunan, dampak dari tragedi salib. |
Pasalnya perang ini menjadi jembatan
penghubung antra budaya Timur dan budaya Barat. Karena pada saat itu kaum Muslim
sudah memiliki peradaban yang sudah maju jika dibandingkan dengan kaum Kristen.[1] Di antara keuntungan yang didapatkan kaum
Kristen dari Perang Salib adalah: (1) Dibidang Militer, (2) Dibidang Arsitektur,
dan (3) Perdagangan dan Industri. Philip K Hitti di dalam bukunya yang berjudul
“History Of The Arabs” juga menegaskan bahwa proses interaksi yang
terjadi antara kaum muslim dan kaum Kristen banyak mempunyai dampak positif
bagi kaum Kristen.












0 komentar:
Posting Komentar