Senin, 06 Maret 2017

Muawiyyah dan Polemik Sejarah Peradaban Dinasty Umayah


Perang menjadi senjata dalam menyebarkan ajaran Islam, pada masa pemerintahan Walid Ibn Malik. 


  • Pengantar
Setelah berakhirnya pemerintahan Khulafa al-rasyidin, dinasti Bani Umayyah pun secara resmi melanjutkan masa khilafah Islam setelah berakhirnya sengketa antara Hasan bin Ali as. Dinasti yang dibentuk oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan ini, dalam pemerintahannya telah berani mengubah sistem suksesi kepimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarki atau sistem kerajaan yang bersifat turun-temurun.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun, selama masa pemerintahannya Muawiyyah telah memindahkan Ibu Kota pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, tempat dimana ia berkuasa sebelumnya. Dalam pemerintahannya, Muawiyyah tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Quraisy sebelumnya.
Selain itu, pada masa pemerintahannya juga Muawiyyah bin Abi Sufyan sukses  menyebarluaskan daerah kekuasaannya hampir keseluruh Jazirah Arab dan Asia, Seperti, Palestina, Syria, Irak, Persia, Pakistan, Uzbekistan dan beberapa wilayah Asia Timur. Walaupun Bani Umayyah telah tersebar luas hampir di seluruh wilayah Jazirah Arab, namun beberapa masalah justru datang dari berbagai wilayah kekuasannya, sehingga menyebabkan tumbuhnya benih-benih perpisahan umat yang membuat runtuhnya kerjaan Dinasty Umayyah.
Tapi, apakah seluruh umat muslim di dunia mengetahu sejarah peradaban islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah? Tentu ini menjadi pertanyaan bersama bagi kita, mengingat banyaknya pendapat para ulama terdahulu dalam menceritakan sejarah pasca peninggalan Rasulullah saw. Karena sungguhnya sejarah merupakan salah satu jembatan penghubung antara umat muslim terdahulu dan umat muslim di era modern.
Sehingga dari pernyataan dan problematika di atas, penulis pun merasa perlu adanya suatu wadah yang bertujuan untuk menjelaskan secara tepat dan terperinci Sejarah Peradaban Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, yang disusun dari berbagai karya tulis ulama terdahulu. Di samping itu, penulis juga berharap agar hadirnya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta mampu meluruskan kembali pemikiran umat muslim dalam ruang lingkup Sejarah Peradaban Islam.Setelah berakhirnya pemerintahan Khulafa al-rasyidin, dinasti Bani Umayyah pun secara resmi melanjutkan masa khilafah Islam setelah berakhirnya sengketa antara Hasan bin Ali as. Dinasti yang dibentuk oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan ini, dalam pemerintahannya telah berani mengubah sistem suksesi kepimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarki atau sistem kerajaan yang bersifat turun-temurun.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun, selama masa pemerintahannya Muawiyyah telah memindahkan Ibu Kota pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, tempat dimana ia berkuasa sebelumnya. Dalam pemerintahannya, Muawiyyah tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Quraisy sebelumnya.
Selain itu, pada masa pemerintahannya juga Muawiyyah bin Abi Sufyan sukses  menyebarluaskan daerah kekuasaannya hampir keseluruh Jazirah Arab dan Asia, Seperti, Palestina, Syria, Irak, Persia, Pakistan, Uzbekistan dan beberapa wilayah Asia Timur. Walaupun Bani Umayyah telah tersebar luas hampir di seluruh wilayah Jazirah Arab, namun beberapa masalah justru datang dari berbagai wilayah kekuasannya, sehingga menyebabkan tumbuhnya benih-benih perpisahan umat yang membuat runtuhnya kerjaan Dinasty Umayyah.
Tapi, apakah seluruh umat muslim di dunia mengetahu sejarah peradaban islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah? Tentu ini menjadi pertanyaan bersama bagi kita, mengingat banyaknya pendapat para ulama terdahulu dalam menceritakan sejarah pasca peninggalan Rasulullah saw. Karena sungguhnya sejarah merupakan salah satu jembatan penghubung antara umat muslim terdahulu dan umat muslim di era modern.
Sehingga dari pernyataan dan problematika di atas, penulis pun merasa perlu adanya suatu wadah yang bertujuan untuk menjelaskan secara tepat dan terperinci Sejarah Peradaban Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, yang disusun dari berbagai karya tulis ulama terdahulu. Di samping itu, penulis juga berharap agar hadirnya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta mampu meluruskan kembali pemikiran umat muslim dalam ruang lingkup Sejarah Peradaban Islam.

A. Sejarah Berdirinya Dinasty Umayyah

Dinansti bani Umayyah merupakan pemerintahan yang berdiri pasca era Khulafah al-Rasyidin, pada tahun 41 H/661M. Nama Dinasti Umayyah merupakan penisbatan kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan yang merupakan pendiri dari Dinasty Umayyah. Muawiyyah merupakan salah satu publik fiqur pada era Rasulullah saw, ia juga terkenal sebagai kerabat terdekat Rasulullah pada waktu itu[1]. Memiliki garis keturunan yang sama dengan Rasulullah saw, membuat Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi salah satu sahabat yang begitu dengan  Rasulullah saw.


Upaya mendirikan Dinasty, yang dilakukan oleh Muawiyyah.
Sebelum menjadi seorang Khalifah, dan pendiri Dinasti Umayyah. Muawiyyah pada awalnya adalah seorang gubernur Damaskus pada era kekuasaan Umar bin Khattab, yang mana pada waktu itu merupakan berita yang mengejutkan dari berbagai kalangan. Menurut Ibnu Asakir, Umar mempercayakan seluruh Damaskus kepada Muawiyyah dengan alasan bahwasanya Muawiyyah bin Abu Sufyan merupakan orang yang memiliki kedudukan serta berpengaruh pada waktu itu[2].
Pada masa kekuasaan Khalifah Usman bin Affan menjabat, Muawiyah masih menjabat sebagai gubernur, dan melakukan penyerbuan ke Siprus hingga ia mampu menaklukan hampir seluruh wilayah Siprus, pada tahun 28 H/647 M. Kemudian pada penyerangan pasukan Romawi melalui lautan, Muawiyyah mampu mengalahkannya, dan menjadi sebuah pertempuran laut terbesar yang pernah dilakukan kaum muslimin, yakni perang Dzat ash-Shawari pada tahun 31 H/651 M.
Sementara pada masa kekhafilahan Ali bin Thalib, terjadi sebuah pemecatan besar-besar terhadap Gubernur pada era kekuasaan Usman bin Affan. Demi, mempertahankan kekuasannya Muawiyyah bin Abu Sufyan berusaha melakukan taktik licik. Pada tahap awal, Muawiyyah melakukan berbagai Fitnah terkait penuntutan darah Usman bin Affan yang terbunuh di kediamannya. Selain meluncurkan Fitnah, Muawiyyah juga melakukan penyerangan terhadap Sayyidina Ali bin Thalib as, yang mana mendapatkan dukungan dari kalangan gubernur bekas pemerintahan Usman bin Affan[3].


Polemik Perang Shiffin
Dalam konspirasinya melawan Sayyidina Ali bin Abi Tahlib, muawiyyah melakukan rencana busuknya dengan cara diplomat. Dengan cara tersebut, Muawiyyah berhasil memukul mundur sebagian tentara Amirul Mukminin dari jalur pemerintahannya. Sehingga, terjadinya perdamaian di antara dua kubu.
Setelah berhasil melakukan perdamaian kekuasaan dengan Sayyidina Ali bin Thalib, lantas tidak membuat hati Muawiyyah senang. Adanya rasa takut serta khawatir direbutnya kembali kekuasannya, membuat muawiyyah menjalankan suatu taktik yang memiliki basis Rasional, yang mana bertujuan untuk medukung pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dengan taktik Rasional tersebut, Muawiyyah bin Abu Sufyan berhasil menghasut beberapa kaum Khawarij di Kufah, yang menjadi langkah awal terbunuh Imam Ali bin Abi Thalib[4].
Sesudah wafatnya Amirul Mu’minin as, berarti habislah masa kepimpinan Khulafah al-Rasyidin. Kemudian beberapa masyarakat Kufah pun mengangkat Hasan bin Ali as, untuk menggantikan posisi ayahnya. Sehingga, terjadi pembaiatan yang pada saat itu. Mendengar terjadinya pembaiatan serta pengangkatan Imam Hasan as.membuat Muawiyyah geram dan kembali melakukan konspirasi terhadap pemerintahan Imam Hasan as. Muawiyyah yang kala itu didukung oleh oposisi Qois bin Saad, melakukan pemberontakan dan memengugurkan beberapa pembela Al-Hasan as[5].
Melihat banyak pertikaian dan pemberontakan yang terjadi, membuat Al-hasan as. Menyerahkan pemerintahannya kepada Muawiyyah, dengan beberapa persyaratan, yakni:
1.      Muawiyyah bersedia menjalankan kitab Allah swt. Dan sunah Rasulullah saw, dan tata cara Khulafa Rasyidin.
2.      Muawiyyah  tidak boleh mengangkat seorang menjadi Khalifah, dan wajib mengembalikkan masa kekhalifahan kepada Al-Mujtaba as.
3.      Masyarakat Iraq, Hijaz, Syam, dan Yaman harus berada dalam keadaan aman.
4.      Sahabat-sahabat Ali dan Syiah-nya terpelihara dalam keadaan aman.
5.      Muawiyyah tidak boleh menganiaya secara tersembunyi maupun terbuka terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw.
6.      Muawiyyah berhenti melakukan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib as.
Syarat-Syarat tersebut pun segera dipenuhi oleh Muawiyyah dengan cara mengirimkan selembaran kertas yang telah ditandatanginya terlebih dahulu. Kemudian, mengumumkan bahwasanya Al-Hasan as, telah turun dan mengakui secara the Facto kekuasaan Muawiyyah.
Dengan adanya pernyataan secara the facto, menjadi dasar berdirinya Dinasti Umayyah pada saat itu juga. Sehingga, dari sinilah awal muncul ke-dzaliman yang dilakukan oleh Muawiyyah berserta beberapa dari garis keturunannya. Muawiyyah pun dilantik menjadi Khalifah pada tahun 41 H, menggantikan Al-Mujtaba as yang memimpin selama 7 bulan. Pada pemerintahannya Muawiyyah menjalan seluruh perjanjian yang telah disepakati bersama Al-Mujtaba. Namun seiring berjalannya waktu Muawiyyah pun membelot dan mengkhinati seluruh isi perjanjian yang telah disepakatinya bersama Al-Mujtaba as. Imam Hasan pun Syahid pada tahun 670 M, di madinah, Saudi Arabia.
Sejak syahidnya Al-Hasan as. Semakin menguatkan eksistensi kedudukan kekhalifaan Muawiyyah. Sehingga, Muawiyyah pun semakin leluasa menguasai seluruh wilayah kekuasaan Islam, serta menjalankan taktik kotornya demi mewujudkan terbentuknya sistem pemerintahan Monarki pada kekuasaan Dinasti Umayyah.

B. Muawiyyah dan Strategi Mendirikan Dinasty 

1.      Upaya Mendirikan Dinasti  
Keberhasilan muawiyyah mencapai ambisi mendirikan kekuasaan Dinasti Umayyah disebabkan di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan administratur. Dia pandai bergaul dengan berbagai tempramen manusia, sehingga dia dapat mengakumulasikan berbagai kecakapan tokoh-tokoh pendukungnya, bahkan bekas lawan politiknya sekalipun. Misalnya dia merangkul dan menawarkan kerjasama Amr Ibn Ash, seorang diplomat dan politikus ulung, mantan gubernur Mesir yang dicopot oleh khalifah Usman.
Upaya strategis yg ditempuh Muawiyyah utk merebut kekuasaan dan sekaligus mendirikan dinasti umayyah antara lain sebagaimana disampaikan berikut ini:
Pertama,  pembentukan kekuatan militer di syria.
Selama 20 tahun menjabat gubernur Syria, suatu wilayah subur yg kuat ekonominya, muawiyyah berusaha mengkonsolidasikan seluruh kekuatan yg ada untuk memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Langkah strategis yg ditempuh selama menjabat gubernur syria antara lain merekrut tentara bayaran baik dari masyarakat asli Syria, maupun dari Imigran Arab yg mayoritas dari keluarganya sendiri, juga merekrut lawan –lawan politiknya yg cakap. Dia tidak segan-segan menghambur-hamburkan harta kekayaan untuk tujuan merekrut unsur-unsur kekuatan di atas.
Selanjutnya dia juga menjanjikan tokoh-tokoh sahabat jika kelak berhasil merebut kekuasaan sebagai khalifah. Di antara mereka yang bersedia bekerja sama dengan muawiyyah adalah Amr Ibn Ash, penakluk dan sekaligus mantan gubernur mesir, diangkat menjadi orang kepercayaan muawiyyah; Ziyad, tokoh yang tidak dikenal jelas siapa orang tuanya dia dikenal dengan “Ziyad Ibn Abihi” diangkat sebagai saudara sendiri dengan memberinya nasab Ibn Abi Sufyan ;  Mughirah Ibn Syu’bah yang dikemudian hari menyarankan pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota kerajaan.
Kedua, politisasi tragedi pembunuhan Usman.
Pada masa pemerintahan khalifah Ali, muawiyyah berjuang memojokkan sang khalifah dengan melancarkan serangan dilematis yang sukar dicarikan jalan pemecahannya. “bahwa Ali harus segera mengusut dan sekaligus menghukum pihak-pihak yang terlibat dalam pembunuhan khalifah Usman. Jika tuntunan ini tidak terpenuhi,maka dia  dianggap bersengkokol dengan kaum pemberontak dan melindungi pembunuh Usman, sehingga Ali sendiri tergolong pihak yang terhukum, karenanya dia harus dicopot dari jabatannya sebagai khalifah”. Implikasi konflik antara Ali dan Muawiyyah merupakan konflik antara kekuatan front Irak dengan kekuatan front Syria.
Politisasi tragedi pembunuhan khalifah Usman ini sangat efektif menumbuhkan simpati dan fanatisme masyarakat syria dalam mendukung perjuangan muawiyyah. Untuk mengobarkan emosi mereka, muawiyyah mempertontonkan baju Usman yg berlumuran darah dan potongan jemari tangan isteri Usman, Na’ilah, yang terpotong ketika berusaha melindungi suaminya.
Ketiga, tipu muslihat dalam arbitrase.
Ajakan arbitrase yg diusulkan oleh pihak muawiyyah merupakan bagian dari langkah strategis untuk memecah belah kekuatan Ali. Keputusan Ali menerima ajakan perundingan tersebut mengecewakan sebagian pengikutnya karena mereka merasa segera mencapai kemenangan dalam peperangan. Mereka membentuk kelompok khawarij yang anti Ali. Lebih daripada itu, kelebihan Amr Ibn Ash dalam perundingan tersebut dalam kapasitasnya sebagai tokoh diplomat dan politikus, semata-mata berusaha mengecoh diplomasi pihak Ali yg diwakili oleh Abu Musa Al-as’ari.
Sehingga jelaslah bahwa sesungguhnya pihak muawiyyah tidak menawarkan arbitrase sebagai media perundingan damai, melainkan sebagai tipu muslihat belaka. Secara de jure, perundingan tersebut meningkatkan kedudukan muawiyyah setaraf kedudukan Ali sebagai khalifah. Hasil perundingan tersebut menetapkan bahwa kedudukan khalifah Ali harus dilepaskan, dan kemudian akan dipilih khalifah baru. Hasil perundingan seperti ini sudah barang tentu menjadikan bara permusuhan pihak Ali semakin berkobar,dan semakin kuatlah alasan khawarij untuk memisahkan diri dan menentang Ali atas kelalaiannya menerima ajakan arbitrase tersebut. Sementara itu kekuatan muawiyyah semakin bertambah, sehingga pada tahun berikutnya pasukan muawiyyah berhasil mengambil alih kekuasaan atas mesir.
Upaya-upaya strategis tersebut di atas cukup efektif dalam memperkuat dukungan dan posisi muawiyyah, sehingga pada akhirnya dia mampu mengalahkan kekuatan Hasan Ibn Ali sekaligus menobatkan diri sebagai penguasa atas imperium muslim. Dengan ini tercapailah ambisi muawiyyah mendirikan dinasti yang baru.[1]
Keempat, upaya mendapatkan simpatis masyarakat Jazirah Arab.
      Sejak wafatnya Imam Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah pun mengambil langkah cepat demi mengamankan posisi Khalifah yang menjadi impiannya. Demi mewujudkannya, muawiyyah memainkan berbagai peran yang sangat penting. Salah satunya dengan cara mendapatkan simpatisan dari kalangan tokoh terkemuka Jazirah Arab pada waktu. Dalam menjalankan rencana busuknya tersebut, Muawiyyah bin Abu Sufyan mendapatkan berbagai kendala. Banyak masyarakat yang melakukan penolakan terhadap penolakan pembai’atan kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan. Dengan adanya penolakkan tersebut, Muawiyyah pun terpaksa melakukan cara paksa dan kekerasan, demi mewujudkan mengamankan posisi Khalifah pada saat itu.
      Hal yang sama pun dilakukan oleh Muawiyyah di Mekkah, banyaknya masyarkat setempat yang menentang dan menolak pembai’atan kepadanya, membuat Muawiyyah bin Abu Sufyan kembali melakukan taktik dan strategi kasar demi mendapatkan bai’at dari masyakarat Madinah dan Mekkah. Masyakarat Mekkah yang pada waktu itu dipimpin oleh Abdullah bin Zubair melakukan perlawanan terhadap serangan yang diluncurkan oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan. Banyaknya pasukan yang dimiliki oleh Muawiyyah bin Sufyan membuat Abdullah bin Zubair kewalahan dalam memerangi kejahilian Muawiyyah. Sehingga, membuat Mekkah yang pada waktu itu jatuh ditangan Muawiyyah bin Sufyan.


Bluskan menjadi cara mendapatkan simpati dari masyarakat jazirah Arab
      Selain ingin mendapatkan bai’at kepada masyarakat Kufah dan Mekkah, Muawiyyah juga melakukan rencananya di Damaskus, yang merupakan daerah kekuasaannya. Dalam menjalankan rencananya, Muawiyyah memberika sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan, dengan memperkenalkan dirinya di tengah orasi masyarakat Damaskus sebagai “Khalul Mukminin” dan juru Tulis Wahyu”[2]. Sehingga dengan pernyataan tersebut, membuat mayoritas masyarakat Damaskus melakukan sumpah setia kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan.
      Dengan mendapatkan sejumlah bai’at dari mayoritas masyarakat Jazirah Arab, semakin mengkokohkan rasa percaya diri Muawiyyah bin Abu Sufyan dalam mewujudkan cita-cita, serta semakin menguatkan dirinya sebagai calon kuat menjadi Khalifah.
2.      Corak khusus pemerintahan Dinasti Umayyah
Berdirinya Dinasti Umayyah tidak semata-mata peralihan kekuasaan, namun peristiwa tersebut mengandung banyak implikasi, di antaranya adalah perubahan beberapa prinsip dan berkembangnya corak baru yg sangat mempengaruhi imperium dan perkembangan ummat Islam. Selama masa pemerintahan Khulafa al-Rasyidun, khalifah dipilih oleh para pemuka dan tokoh sahabat di madinah, kemudian pemilihan dilanjutkan dengan bai’at oleh seluruh pemuka Jazirah Arab. Hal serupa tidak pernah terjadi pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah.  Semenjak muawiyyah, raja-raja Umayyah yang berkuasa menunjuk penggantinya kelak dan para pemuka agama diperintahkan menyatakan sumpah kesetiaan di hadapan sang raja. Sistem pengangkatan penguasa seperti ini bertentangan dengan prinsip dasar dan ajaran permusyawaratan Islam.
Berbeda dengan masa kekuasaan Dinasti Umayyah, yang mana Muawiyyah berusaha dengan keras untuk mengubah sistem pemerintahan dari sistem demokrasi menjadi sistem monarki atau sistem turun-temurun. Perubahan sistem tersebut tentu mendapat kejaman dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, Muawiyyah telah berani mengubah sebuah tradisi kepimpinan yang telah disepakati oleh umat muslim secara sepihak. Tidak sampai di situ, Muawiyyah bahkan berani melanggar perjanjian dengan Al-Hasan dengan tidak memilih khalifah penggantinya, kecuali mengembalikan mandat kekhalifaan kepadanya. Banyak dari kalangan sahabat bahakan Ahlul bait menentang dengan keras perencanaan Muawiyyah tersebut, yang mana hanya akan menimbulkan kekacau dan ke dzaliman, mengingat sifat dari kalangan Bani Umayyah tidak jauh berbeda dengan kalangan kaum kafir Quraisy.


Tradisi Turun-temurun, Dinasty Umayyah. Pengangkatan Abd, Malik sebaga Khalifah Dinasty Umayyah.
Muawiyyah yang kala itu mendapat dukungan dari kalangan pemerintahannya tetap menjalankan rencananya, dengan kembali memainkan peran liciknya satu persatu oposisi yang menolak perencanaan tersebut diperanginya. Dengan terjadinya peperangan dan pemberontakan tersebut, kembali mengingatkan kita bahwasanya segala sesuatu yang dilakukan oleh Muawiyyah selalu diselasaikan dengan jalur peperangan. Berbeda di masa Rasulullah saw dan Khulafah al-Rasyidin yang sebagian besar diselesaikan melalui jalur musyawara bersama.
Dengan berbagai peperangan dan pemberontakan, akhirnya Muawiyyah bin Abu Sufyan pun berhasil membentuk pemerintahan dengan sistem pemerintahan Monarki, yang menurut kalangan dianggap akan menimbulkan berbagai kekacauan dan keterpurukkan Islam di masa akan mendatang.

C. Kejayaan Dinasty Umayyah Timur


Dinasti Umayyah yang berdiri selama 90 tahun, memiliki beberapa tokoh-tooh penguasa kekhalifaan pada saat itu. Adapun nama-nama khalifah yang memimpin pada saat itu:

Silsilah Dinasty Umayyah

Dari nama-nama khalifah tersebut, ada beberapa khalifah bahkan berhasil menyebarluaskan ajaran Islam hingga ke semanjung Afrika, yang mana menandakan  eksisnya Islam pada masa itu. Berikut ini beberapa Khalifah menonjol pada masa kekuasaan Bani Umayyah yang berhasil mencapai puncak kejayaan pada masa Dinasty Umayyah :


1.      Muawiyyah Bin Abu Sufyan. (41-60 H / 661-779M)
Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah pertama pada Dinasti Umayyah sejak 41 H, yang berkuasa selama 15 tahun. Pada masa kekuasaannya, Muawiyyah berhasil membawa Dinasti Umayyah pada puncak kejayannya, yang mana kala itu Muawiyyah berhasil merebut beberapa daerah kekuasaan kerajaan romawi di Jazirah Arab[1].
Bukan hanya itu, Muawiyyah juga berhasil melakukan penaklukkan suku Bar-bar di semenanjung Afrika yang menandaan masuknya ajaran Islam di sekitar daerah kekuasaan suku Bar-bar. Di samping itu, pembetukkan markas-markas tentara juga menandai kekuasaan Bani Umayyah di kawasan Semenanjung Afrika[2].
Selain itu, Muawiyah juga berhasil menjalankan rencana politiknya dalam membentuk sistem kerajaan Monarki atau turun-temurun yang diwarisi oleh keturunannya[3], yang mana dengan terciptanya sistem monarki, semakin memperkuat eksistensi kekuasaan Bani Umayyah kala itu. Selain itu, Muawiyyah juga mendirikan pos dinas untuk memperlancar Administrasi di pusat pemerintahannya.
Dalam bidang seni, Muawiyyah juga berjasa dalam mempengaruhi dunia seni dalam kehidupan masyarakat tanah Arab kala itu. Berhasil memperkenal corak seni lukis kepada masyarakat, membuat dirinya cukup berjasa dalam mengembangkan seni lukis. Tingginya tingkat masyarakat arab untuk berseni cukup sebanding dengan niat Muawiyyah meningkatkan integritas seni. Sehingga, tidak heran banyaknya corak lukisan yang terdapat di sekitar Mesjid dan di luar mesjid kala itu[4].
pembuatan mata uang islam pertama, dalam menunjang ekonomi islam di jazirah Arab
Di samping sukses pada bidang politik dan seni, Dinasti Umayyah pada kekuasaan Muawiyyah juga mencapai kejayaannya pada bidang ekonomi. Di mana pada saat itu, Muawiyyah mencetak mata uang arab sebagai alat tukar resmi pada masa kekuasaannya.

2.      Marwan Bin Hakam (684-685 M)
Marwan Bin Hakam menjadi khalifah ke-4 pada Dinasti Bani Umayyah, yang memerintah sangat singkat, yakni selama setahun (684-685 M). Namun,walaupun memerintah dengan begitu singkat, Marwan Bin Hakam justru memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap penyebaran kekuasaan Bani Umayyah kala itu.  Beberapa peperangan berhasil ia taklukan, salah satunya berhasil menduduki Hijaz yang merupakan daerah kekuasaan Abdullah bin Az-Zubair[5]. Dengan ditaklukannya Hijaz, menandakan kembalinya puncak kejayaan Dinasti Umayyah pada era kekuasaan Marwan Bin Hakam.
Selain pintar dalam berpolitik dan strategi perang, tercatat bahwasanya Marwan bin Hakam merupakan salah satu orang tokoh terkemuka Quraisy yang pandai dalam meriwayatkan hadish dari kalangan sahabat, seperti Umar bin Khathtab, Usman bin Affan dan Zaed bin Tsabit.

3.      Abdul Malik Bin Marwan. (73-86 H / 692-705 M)
Setelah berakhirnya masa kekuasaan Marwan bin Hakam, digantikan oleh anaknya “Abdul Malik bin Marwan” (685-705). Pada masa kekuasannya Abdul Malik berhasil menguasai Iraq yang kala itu dipimpin oleh Mush’ab bin Zubair, yang merupakan wakil dari Abdullah bin Zubair. Setelah sukses menguasai Iraq, Abdul Malik pun kembali mengirim ekspedisi militernya ke Mekkah, guna mengempung pusat pemerintahan Abdullah bin Zubair. Pengupungan yang dipimpin oleh Al-Hajj bin Yusof ini, berhasil menaklukan Mekkah dan berhasil membawa pulang kepala Abdullah bin Zubair ke Damsyik, yang merupakan pusat kerajaan Bani Umayyah pada era Abdullah bin Marwan[6].
Selain berhasil menduduki hampir seluruh wilayah Jazirah Arab, lantas tidak membuat Abdul Malik bin Marwan puas. Abdul bin Malik kembali melakukan ekspansi secara besar-besaran ke wilayah timur, dengan mengirim sekitar 40.000 pasukan & 7.000 tentara bayaran. Dengan jumlah pasukan yang begitu banyak. Ekspedisi tentara yang dikomandai Al-Hajj tersebut, berhasil menaklukan beberapa wilayah di Asia Tengah hingga ke wilayah China dan Mongolia[7].
Setelah berhasil menduduki beberapa wilayah di kawasan Asing Tengah, Abdul Malik bin Marwan kemudian membangun beberapa markas-markas militer yang menandakan tersebarnya wilayah kekuasaan Dinasty Umayyah di kawasan Asia Tengah.


Wilayah Kekuasaan Abd. Malik 
Dengan dilakukannya ekspansi pada masa kekuasaan Abdul Malik, menandakan tersebarnya ajaran Islam di berbagai wilayah timur, serta tersebarnya peradaban Islam pada abad tersebut. Selain itu, pada masa kekuasaan Abdul Malik ditandai dengan penyempurnaan tulisan Al-Qur’an, dengan membuat beberapa baris dan titik pada huruf-huruf Al-Qur’an[8].

4.      Walid bin Abdul Malik. (86-96 H / 692-705 M)
Setelah wafatnya Abdul Malik bin Marwan pada tahun 86 H. Walid, selaku pewaris tahta pun diangkat menjadi khalifah Dinasty Umayyah pada tahun 705 dan berlangsung selama 10 tahun. Pada masa pemerintahan Al-Walid wilayah Kekuasaan Dinasty Umayyah sedikit melebar di wilayah barat, yaitu pada kawasan Eropa pada tahun 711 M.
Ekspansi Kekuasaan Al-Walid berhasil menyentuh Cordoba, Spanyol
Pada waktu itu, Walid mengirim eskpedisi tentaranya ke daerah pesisir Spanyol, yang mana berhasil menduduki beberapa wilayah di sana, antara lain Cordoba, Madrid, Sevilla, Elvira dan Teldon. Selain berhasil meduduki wilayah di Sekitaran Spanyol, Al-Walid juga berhasil menundukan kawasan semanjung Afrika, diantaranya Maroko dan Al-Jazair[9].  Dengan dikuasainya Semenanjung Afrika dan Eropa, semakin meluasnya wilayah kekuasan Muawiyyah kala itu. Sehingga, tidak heran jika pada masa kekuasaan Al-Walid ditandai dengan puncak kejayaan Bani Umayyah pada kala itu.
Di samping tersebarnya ekspansi Dinasti Umayyah, pada masa Al-Walid juga mengembangkan sistem sosial dan ekonomi pada pemeritahannya. Terbukti bahwasanya, Walid mendirikan beberapa dinas pos yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan masyarakat di pusat pemerintahannya. Selain itu juga, Al-Walid melakukan pembaruan terhadap mata uang Arab pada masa kekuasaannya[10].
Bukan hanya itu, Walid bin Abdul Malik juga berjasa mengembangkan tehnik lukisan yang semula dikembangkan di masa kekuasaan Muawiyyah. Pada kekuasaannya, seni lukisan sangat mendapatkan perhatian khusus ketimbang bidang seni lainnya. Sehingga, mengalami pemodifikasi yang sangat luar biasa yang mampu mempengaruhi peradaban seni masyarakat muslim pada saat itu[11].
Selain mengembangkan seni lukis, Walid bin Abdul Malik juga berusaha mengembangkan beberapa seni lain. Seperti seni arsitektur, yang mana pada saat itu juga cukup memberikan dampak positif terhadap peradaban masyarakat Syam. Melalui seni arsitektur tersebut, beberapa masyarakat Syam tidak hanya terfokus pada seni lukis semata, melain juga mengambil peran penting dala mengembangkan kemampuan mereka dalam berarsitektur. Terbukti pada saat itu, masyarakat Syam mampu membangun “Masjid Damaskus” atas seni arsitektur Abu Ubaidah bin Jarrah yang dibantu oleh beberapa seni Syam[12].

5.      Umar bin Abdul Aziz (99-101 H / 717-719 M)
Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 717 M, yang menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik yang menjabat sebagai khalifah pada waktu itu. Pada masa kekuasaan Umar bin Abdul Aziz berhasil menghidupkan rasa damai dan tentram di tengah masyarakat Madinah pada waktu itu. Di samping itu, penghapusan pajak serta menyamakan kedudukan kedudukan masyarakat Arab dengan orang Malawi semakin memakmurkan kehidupan masyarakat Madinah. Bukan hanya itu, banyaknya kabila kaum kafir dzimmi yang memutuskan masuk Islam juga mempengaruhi eksistensi kekuasaan Umar bin Abdu Aziz di pusat pemerintahan.
Selain itu, pada masa kekuasaannya Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sebagai orang yang alim dan taat beragama, bahkan tidak heran pada pemerintahannya Umar bin Abdul Aziz melakukan renovasi serta memperluas bangun mesjid Nabawi di Madinah dan masjid Al-Haram di Mekkah[13].
Bukan hanya meningkatkan kesejateraan perekonomian masyarakat pada waktu itu, Umar bin Abdul Aziz juga turut meningkatkan basis Ilmu pengetahuan pada masa kekuasaannya. Pada saat itu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan beberapa kalangan teolog untuk mengumpulkan beberapa hadish Nabi saw, serta membukukkan hadis-hadis tersebut. Dengan proses pembukuan tersebut, Umar bin Abdul Aziz berhasil mendaulahkan dirinya sebagai Khalifah pertama pada Dinasti Umayyah yang membukukan hadis-hadis Rasulullah, yang menjadi tolak ukur ilmu pengetahuan pada masa kekuasaannya[14]. Selain itu pada masa kekuasaannya, Umar bin Abdul Aziz berhasil menghasilkan beberapa ilmuwan berintelek tinggi. Diantaranya, Imam Baqir as, Imam Ja’far as (ilmuwan mazhab Ahlul Bait), Imam Abu Hanifah, dan Imam Maliki (Ilmuwan Sunni).


Peninggalan Peradaban Intelektual di masa Khalifah Abdul Aziz 
Di samping itu, pada masa kekuasaannya Umar bin Abdul Aziz juga merubah tradisi Bani Umayyah, yang mana pada kala itu banyaknya para ahli agama yang melecehkan Ahlul Bait Rasulullah saw. Sehingga, Umar bin Abdul Aziz menghapus secara permanen tradisi tersebut di masa kekuasaannya. Dari kebijakan tersebut, mayoritas umat muslim merasa tentaram hidup tanpa adanya perbedaaan pandangan dalam ajaran Islam.
Walaupun tidak begitu banyak bergerak di bidang perluasan wilayah, Umar bin Abdul Aziz tercatat sebagai Khalifah yang sukses mengembalikkan kesejahteraan rakyat di tengah isu yang tengah bergejolak pasca wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik.

6.      Hisyam bin Abdul Malik (106- 120 H / 724-743 M)
Hisyam bin Abdul Malik menjadi Khalifah pada Dinasty Umayyah pada sekitar tahun 724 M yang memerintah selama duapuluh tahun, Hisyam bin Abdul Malik mewarisi kekhalifaan dari saudaranya Yazid II dengan mengalami banyak pokok permasalahan. Masa pemerintahannya, Hisyam bin Abdul Malik berhasil mengembagkan kembali masalah perekonomian yang kembali melandah Dinasti Umayyah pada masa peninggalan Umar bin Abdul Aziz. Banyak permasalahan dalam pemerintahan membuat Hisyam bin Abdul Malik, segera mengubah banyak sistem dalam pemerintahan, demi membangkitkan kembali kesejahteraan masyarakat di atas kekuasaan Dinasti Umayyah.
Terbukti dalam masa pemerintahannya Hisyam bin Abdul Malik berhasil memperbaiki masalah perekonomian, yang semula sempat terjadinya inflasi dan kemunduran perekonomian pada peninggalan Umar bin Abdul Aziz[15]. Selain mengembalikkan masalah perekonomian, Hisyam juga memberikan kontribusi yang sangat tinggi terhadap nilai dan intelektual pada masa kekuasannya, yang mana dibangun beberapa sekolah, serta banyak karya sastra Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa itu[16].
Hisyam bin Abdul Malik sangat menyukai seni, sehingga pada masa kekuasaannya Hisyam bin Abdul Malik lebih memfokuskan pada permasalahan seni dan intelektual. Sehingga, pada masa pemerintahannya, Dinasti Umayyah tidak menyebarluaskan wilayah kekuasaan.
Dengan mengembalikkan kembali perekonomian serta meningkatkan nilai mutu intelektual di Pusat Pemerintahannya, membuat Hisyam bin Abdul Malik menjadi salah satu Khalifah yang sangat berpengaruh dalam menunjang kejayaan Dinasti Umayyah.

D. Runtuhnya Dinasty Umayyah Timur


Runtuhnya Dinasty Umayyah

    Setelah sepeninggalan Hisyam bin Abdul Malik, kekhalifahan Dinasti Umayyah mengalami kelemahan-kelemahan yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran dinasti ini. Ada beberapa faktor yang menjadi sebab runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah, diantaranya[1]:


1.      Sistem pergantian Khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru dalam tradisi Arab , pengaturan pergantian kekhalifahan yang tidak jelas menyebabkan persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2.      Pertentangan antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi atas dua kelompok, yaitu Arab Utara yang disebut Mudariyah yang menempati Irak dan Arab Selatan (Himyariyah) yang berdiam di sekitar wilayah Suriah, yang disebabkan pada masalah kecendurungan Khalifah yang lebih memihak ke salah satu kelompok dan menafikkan kelompok yang lain.
3.      Ketidakpuasan sejumlah pemeluk islam non Arab, mereka adalah pendatang baru dari kalangan bangsa bangsa taklukkan yang mendapatkan sebutan mawali. Status tersebut menggambarkan infeoritas di tengah- tengah ke angkuhan orang Arab yang mendapatkan fasilitas dari penguasa Umayyah. Padahal mereka bersama- sama Muslim Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan beberapa orang diantara mereka mencapai tingkatan yang jauh diatas rata- rata bangsa Arab. Tetapi harapan mereka untuk mendapatkan kedudukan dan hak- hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan mawali itu jumlahnya jauh lebih kecil dibandingan tunjangan yang dibayarkan kepadda orang Arab.
4.      Luasnya Wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah, yang menyebabkan sulitnya mengendalikan dan mengurus administrasi dengan baik. Di tambah lagi sedikitnya jumlah penguasa yang berwibawa untuk dapat menguasai sepenuhnya wilayah kekuasan tersebut.
5.      Adanya pola kehidupan mewah di lingkungan istana yang menyebabkan anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan, ketika berkuasa sebagai Khalifah.
6.      Terjadinya penindasan secara terus menerus terhadap pengikut-pengikut Ali  as, pada umunya dan penindasan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. Sehingga, mereka menjadi oposisi yang sangat kuat. Kekuatan baru ini, dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abdul bin Muthalib dan mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah  yang merasa di kelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Hal ini menjadi penyebab tergulingnya Dinasti Umayyah.
7.      Tingginya tingkat egoisme para pejabat pemerintahan dan terjadinya sejumlah pembelotan militer, yang menyebabkan timbulnya gerakan stabilitas kerajaan. Sehigga, dari problem tersebut terjadi ketidakpuasan dan hilangnya loyalitas di sebagian tentara kerajaan, yang mana menyebabkan sebagian tentara kerajaan berpindah ke pihak musuh.


Daftar Pustaka
1.      Mawardiyanti Indri, Dinasti Bani Umayyah di Damaskus, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2014.
            2.      Ja’fariyan Rasul  , Sejarah Para Pemimpin Islam, Jakarta: Al-Huda, 2010.
          3.      Anwar Masrul Ahmad, Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Dinasti Umayyah, Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Vol.I.No.1, 2015.
            4.      Ali, K Sejarah Islam  (Tarikh Pramodern), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003.
5.      Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
            6.      Hitti. K. Philip, History Of The Arabs, Jakarta: Serambi, 2005.
7.      Sudarsono Nda, Sejarah Dinasti Umayyah, Surabaya, Uin Sunan Ampel, 2015.
8.      Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, Jakarta: Kalam Mulia, 2003.
9.      Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional, 2005.
10.  Mubarok Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
11.  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo, 2008.

12.  Amstrong Karen, Sejarah Singkat Islam, Yogjakarta: Jendela, 2002.



0 komentar:

Posting Komentar